Teluk Kiluan

KBR68H, Lampung Timur – Destinasi wisata di Provinsi Lampung saat ini berkembang pesat. Banyak tempat-tempat wisata di provinsi, sebagai gerbang utama pulau Sumatera, menawarkan panorama keindahan alam menawan.

Salah satunya adalah Teluk Kiluan. Pantai yang terletak Desa Kiluan Negri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus ini, menonjolakan wisata laut mempesona. Pasir-pasir putih menyilaukan mata dan binatang-binatang kecil dengan bebas berkeliaran. Situasi ini menambah keasrian pantai yang tengah ramai dikunjungi, baik turis lokal maupun mancanegara pada Setiap akhir pekan.

Dimana letak teluk ini? Kalau dari  pusat kota di Bandar Lampung jaraknya sekitar 90 kilometer. Saat memasuki sekitar Teluk Kiluan, jangan kaget jika Anda menjumpai jalan yang rusak dan berbatu.

Buruknya kondisi jalan ini diakui Kepala Desa Kiluan Negri, Kadek Sukrasena. Menurut dia, pemerintah daerah perlu memperbaiki infrastruktur daerah wisata ini.

“Infrastruktur yang perlu perhatian dari pemerintah. Semua lintas yang terkait bisa bekerja sama membangun Kiluan terutama pariwisata. Jembatan dan jalan (yang rusak, red) menghambat (pariwisata),” jelas Kadek Sukrasena.

Daya Tarik Lumba-Lumba

Lumba-lumba menjadi daya tarik Teluk Kiluan. Berkunjung ke sini, tidak lengkap rasanya jika tidak menyewa perahu dan melihat langsung aksi liar lumba-lumba di tengah laut lepas.

Namun, lagi-lagi ancaman terhadap hewan laut ini juga tinggi. Menurut Kepala Desa Kiluan Negri, Kadek Sukrasena, penangkapan ikan illegal mengancam kelangsungan hidup lumba-lumba. Ia khawatir kondisi ini akan mengurangi daya tarik Teluk Kiluan. “Karena yang paling menarik yah lumba-lumba,” ungkap Kadek Sukrasena.

Kadek berharap pariwisata di Teluk Kiluan bisa dikembangkan dengan konsep pariwisata yang berbasis masyarakat. Sehingga, kata dia, keasrian lingkunagn di teluk tetap terjaga.



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!