Sekalipun tidak ada hutan di kotaku Solo, Jawa Tengah binatang berhidung panjang ini tidak asing bagi anak-anak di jamanku. Siapa tak kenal Kyai Anggoro yang menempati salah satu sudut Taman Sriwedari?

Kyai Anggoro yang merupakan binatang klangenan (kesayangan) Ingkang Sinuwun Kanjeng (ISSK) Paku Buwono X sangat istimewa. Jika ada pengunjung mengunjingnya, terlebih jika berbisik, Kupinge perung ya(telinganya cacat ya) Kyai Anggoro marah. Ia melemparkan buah-buahan di dekatnya, atau air untuk disemburkan lewat hidungnya pada siapa saja yang mengunjingnya.

Walau sejak kanak-kanak akrab dengan Elephas maximus sumatranus, aku baru benar-benar merasakan, mengelus kulit tebalnya, hingga mandi bersamanya saat berada di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Perang Kentut

Usai melepas rindu dengan anak-anak Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi, gantian Rahmad Adi atau Ucok dan Heri mengajakku berkenalan dengan Rahman, Ria dan Nela anak Ria serta Hendro, Lisa dan Teso di TNTN.

Rahman? Ria? Nela? tanyaku pada temanku dari Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Riau ini. Yap, besok pagi aku akan bertemu dengan binatang-binatang bertubuh maksimal itu.

Dari kota Pekanbaru, travel PO Inhil Jaya jurusan Rengat membawa kami ke Simpang Ukui. Ongkosnya Rp. 50.000 per orang. Sebenarnya ada yang lebih murah kalau kami naik bus jurusan Jambi atau Jakarta. Cukup Rp 30.000 per orang. Jika saja tidak ada truk-truk pembawa logging dari perusahaan Hutan Tanaman Industri, atau juga truk pengangkut minyak kelapa sawit, perjalanan kami tidak lebih dari 3 jam. Apalagi jalan lintas timur memang mulus.

Umumnya travel yang juga jurusan Tembilahan itu tidak memakai AC. Orang merokok di dalam mobil sudah biasa. Biasanya lagi, perokok tidak begitu peduli dengan kenyamanan penumpang lain. Beruntung seorang lelaki di bangku belakangku bersedia mematikan rokoknya ketika kuminta, hingga aku turun di Ukui.

Ukui seperti kota lain yang sedang berbenah, di beberapa ruas jalan lintas itu berdiri ruko-ruko. Menurut seorang penjaga apotek, Penginapan Garuda adalah satu-satunya penginapan di sana. Hmm, jika kami berangkat lebih pagi, tentu kami bisa lebih irit Rp 120.000! Uang itu untuk membayar dua (2) kamar yang kami sewa. Kalau tidak pakai kartu mahasiswa, harganya bisa lebih mahal lagi. Ini tadi kutawar, ujar Heri sambil tertawa.

Kamar-kamar hanya berbatas kayu triplek. Suara orang ngorok pun terdengar dari kamarku. Lebih-lebih ketika pagi tiba, Ucok dan Heri saling menyerang! Thut! Thuuuuut! Pretepret tepret tepret. Hey, jorok kalian! Kentut mulu! teriakku ke kamar mereka. Ucok dan Heri malah tertawa.

Oh ya, kamar mandi dipakai bareng sesama penyewa kamar. Letaknya di belakang rumah. Tidak ada air hangat di sana. Meskipun mematok harga murah, pasangan bukan suami istri atau laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh menginap di satu kamar.

Sawit dan Akasia

Pagi usai mandi, kami bergegas menuju pasar tradisional Pasar Ukui. Berbagai sayuran, ikan asin, telur, beras, dan bumbu-bumbu kami beli untuk persediaan makan selama di dalam Taman. Kata Heri, Semua kebutuhan makan harus kita siapkan agar kedatangan kita justru nggak merepotkan tim yang ada di dalam. Kan kalau butuh sesuatu, mereka jauh dari mana-mana.

Belanjaan kami tidak lebih dari Rp 200.000 untuk menginap 4 hari 3 malam, termasuk beberapa bungkus biskuit dan makanan ringan. Kelak sesampai di dalam, masakan kami bahkan tidak hanya kami santap bertiga. Tetapi juga teman-teman Balai Taman Nasional Tesso Nilo yang tengah bertugas di sana.

Usai packing perlengkapan dan belanjaan, kami bertiga menuju Simpang SP IV naik becak motor, ongkosnya Rp 20.000. Tidak begitu jauh, tetapi berat!

Informasi pada plang Selamat Datang menyebutkan, jarak antara Simpang SP IV - TNTN sejauh 25,3 KM. Dari Simpang itu, kami naik ojek motor. Setelah negosiasi, Heri dan Ucok memperoleh harga Rp. 80.000 per motor.

Sekali lagi aku merasa beruntung, jalan tanah tak beraspal tidak tersiram hujan. Lebih dari satu jam pemandangan di sisi kanan kiri jalan hanya sawit. Sungguh membosankan! Empat desa terakhir yang kuingat antara lain Desa SP (Satuan Pemukiman) I, SP II, Air Hitam, dan Lubuk Kembang Bunga. Tukang ojek yang memboncengku ternyata Orang Jawa. Kata mas Nardi, Okeh wong trans neng kene (banyak transmigran di sini).

Semakin masuk, setelah sawit-sawit tua berhektar-hektar itu jenis pohon berganti. Mas Nardi mengatakan, Iki akasia HTIne RAPP. Yap, pohon-pohon akasia milik PT Riau Andalas Pulp and Paper memang langsung berbatasan dengan Taman Nasional yang diresmikan pada 19 Juli 2004 itu. Sebelum masuk taman, masih di wilayah HTI tersebut, sebuah bangunan berdiri di sisi kiri jalan. Tampak kosong. Tertulis kantor Balai Taman Nasional Tesso Nilo.

Menurut Mas Nardi, menjadi tukang ojek untuk masuk ke dalam tidak hanya sekedar bermodal kemauan, tetapi harus hapal jalan. Jika tidak, simpang-simpang jalan yang banyak ditemui bisa membuat salah jalan.

Pukulan Kasih Sayang

Gapura selamat datang Flying Squad tertata apik. Tidak kurang lima bangunan di sana. Satu bangunan untuk kantor, dua guest house, dua rumah mahot yang salah satunya menjadi satu dengan dapur. Satu bangunan lagi adalah klinik gajah. Untuk menerangi temaram malam, satu genset harus diengkol.

Bang Iwan yang tengah mengajak anak bungsunya Tia main ke dalam taman menyambut ramah. Esok pagi, ayah 2 anak inilah yang membimbingku naik ke punggung gajah. Esok, aku juga akan tahu bahwa pria bertubuh tinggi besar ini merupakan mahot (pawang)-nya Ria.

Malam menjelang, Heri kubantu bersama Ucok memasak di dapur. Tak kunyana, malam pertamaku disambut seekor musang. Beberapa kali ia mengendap-endap di luar dapur untuk memakan sisa-sisa bagian tubuh ikan yang dibuang para mahot. Viviera tangalunga yang termasuk binatang terancam punah itu malu-malu pada kami.

Usai makan malam, ketika balik lagi ke bangunan kantor, bang Amdani ternyata sudah datang. Ia yang cepat akrab denganku telaten mengikir sesuatu. Tanyaku padanya, apa yang sedang dibuatnya. Ini namanya gancu, sambil terus mengikir.

Gancu dibuat dari pedal sepeda yang diruncingkan. Ujungnya dibengkokkan ke dalam, lalu diberi gagah sekitar 40an cm. Alat ini berfungsi untuk mengarahkan gajah ketika tidak menurut. Caranya dengan mengaitkan ujung yang tajam di kepala dekat telinga.

Hmm, apa tidak membuat gajah sakit bang? Nggak lah. Pukulan yang kita berikan adalah pukulan kasih sayang dan tidak menyakitkan. Kadang dipukul juga dengan gagangnya, hehehe, tapi tetap dirasakan tidak menyakiti, ujar pria asal Padang ini.

Di Taman Nasional seluas 38.576 ini terdapat enam ekor gajah latih. Flying Squad sendiri merupakan teknik mitigasi konflik manusia-gajah, dengan memberdayakan gajah-gajah latih untuk mengusir dan menggiring gajah-gajah liar yang masuk perkebunan atau pemukiman masyarakat kembali ke dalam area konservasi.

Menurut cerita bang Amdani, di Tesso Nilo yang merupakan salah satu sisa hutan dataran rendah dan menjadi kawasan konservasi gajah ini terdapat 60-80 ekor gajah. Selain gajah, di Taman Nasional yang terletak di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu Provinsi Riau ini juga terdapat satwa liar lain seperti, harimau (Panthera tigris sumatrae), rusa sumbar (Cervus unicolor), kijang muncak (Muntiacus javanicus), macan dahan (Neofelis nebulosa), owa (Hylobates agilis), beruang madu dan jenis mamalia lain.

Nela Yang Nakal

Bang Iwan, bang Susilo, bang Andre membawa kami bertiga ke arah penambatan gajah. Menuju lokasi tersembunyi itu, saya dibawa dengan menggunakan motor trail. Satu motor bertiga! Cukup jauh lokasinya dengan tempat kami menginap semalam.

Heri dan Ucok mengatakan, aku sangat beruntung (sudah tiga kali kuhitung) diajak ke tempat itu. Biasanya, tempat menambat gajah hanya diketahui oleh mahot. Orang lain tidak boleh mengetahui, ujar Heri.

Tiga ekor gajah nampak perkasa dibawah aba-aba masing-masing mahot. Ini Ria, Nuk. kata bang Iwan padaku sesaat setelah kami bertiga menunggu para mahot menjemput para belalai panjang. Hmm, apa tuh belakang Ria? Ucok ternyata sudah memegang batang kayu sepanjang 1 meteran. Untuk nakut-nakuti Nela, Buk, kalau nggak, ngejar dia! ujar Ucok yang waspada. Ria berjalan sangat tenang. Nela, anak Ria menelusup ke depan Ria.

Sepanjang jalan bekas jalan pengangkut kayu kertas menuju lokasi merumput, Nela berkali-kali berusaha mengejar kami. Ia akan pura-pura membelakangi kami, lalu secepatnya berbalik saat kami lengah. Tentu saja, Nela dan Teso anak Lisa hanya mengajak -manusia- bercanda dan bermain dengannya. Tapi gajah tetap saja gajah. Badan jumbonya, walau usianya baru dua tahun tetap saja membuat Ucok tersungkur. Tingkahnya, ihhhhh, ibarat bayi manusia pengen nyubit gemessssss!!!! Lucu!

Bapaknya Nela dan Teso ya gajah-gajah liar yang tertarik dan jatuh cinta sama Ria dan Lisa yang cantik-cantik ini, ujar bang Iwan sambil mengelus Ria.

Kutu Gajah Sebesar Anak Ayam

Ninuk lagi dapet tuh Bang, kata Heri pada bang Iwan. Aku sedikit kecewa bakal nggak bisa jalan-jalan dengan Ria, Lisa, Rahman karena aku sedang menstruasi. Menurut teman-temanku pemerhati gajah, gajah jinak biasanya enggan didekati perempuan yang sedang haid.

Coba dulu Ria dielus Nuk. Kalau dia nggak mengelak nggak papa naik, ujar bang Iwan. Ria tetap tenang. Bahkan ketika bang Iwan dan Ucok membantuku naik ke punggung, Ria tetap tenang. Lalu, trenggenuk.trenggenuk.aku jalan-jalan bersama Ria. Nela kadang-kadang meminta Ria berhenti untuk menyusu.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!