Besok, 27 Januari 2016, kita memperingati Hari Kusta Sedunia. Peringatan ini untuk terus meningkatkan kesadaran akan salah satu penyakit tertua di dunia ini. Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes, tahun 2015, Kemenkes berhasil mengeliminasi 14 provinsi penderita kusta. Yang paling berhasil adalah Provinsi Banten. Hasil tersebut diperoleh dengan mengukur  jumlah penduduk kurang dari 1 per 10 ribu.

“Jawa Timur, Jawa Barat dan wilayah masih Indonesia Bagian Timur termasuk Papua Barat, penduduknya masih banyak yang menderita kusta. Total ada 15 ribuan penderita kusta tersebar diseluruh Indonesia. Itu sebenarnya sudah terjadi penurunan. Tahun ini ada dua provinsi yang jadi target pengeliminasian kusta, yaitu Aceh dan Sulawesi Tengah, karena kasus kusta yang masih tinggi, dan  2020 akan dieliminasi semua,” ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Klinik KBR, Selasa (26/01/2015).

Melalui tema Hari Peringatan Kusta : “Ayo temukan bercak, jadikan keluarga sebagai penggerak pencegahan penyakit” Kemenkes akan mengadakan kegiatan sosialisasi di Jawa Timur pada Maret mendatang. Salah satu kegiatannya dengan mengajak masyarakat menemukan tanda-tanda sejak dini penyakit kusta dan menemukan kasusnya secara dini.

Ia menjelaskan, penyakit kusta adalah penyakit menular menahun yang menyerang kulit, saraf tepi, organ tubuh lain atau  sel-sel saraf. Kalau terlambat diobati,  akan menyebabkan cacat tubuh, seperti jari membengkok, luka, atau bahkan putus, mata tidak mentup dan kaki melemah.

Ciri penyakit kusta adalah timbulnya bercak merah pada kulit, namun tidak gatal. Bercak bisa timbul hanya disatu tempat.  Kulit pun seperti mati rasa, dan tidak berkeringat. Kusta tidak menggerogoti tulang, tapi kalau ada komplikasi kencing manis, maka penyakit inilah yang menggrogotinya. Kusta juga tidak disebabkan oleh makanan.

Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini ada dimana-mana, termasuk di dalam tubuh manusia, salah satunya hinggap di hidung atau jalur pernafasan. Bakteri ini ditularkan melalui  udara  atau pernafasan. Jika tinggal serumah dengan penderita kusta, akan mudah tertular.

Meski begitu, menurut Wiendra, penularan tak langsung terjadi, bisa saja jika saat ini seseorang kontak dengan orang yang punya penyakit kusta, 2 sampai 3 tahun bahkan 10 tahun lagi penyakit ini baru muncul di tubuhnya.

“Tak semua orang yang yang kontak dengan penderita kusta, serta merta akan terkena kusta, hanya 5% saja yang tertular. Misalnya,  dari 100 orang yang kontak, 95 orang sehat, 5 orangnya kena. Dari 5 orang itu, 3 orang yang tertular bisa sembuh sendiri dengan gizi yang baik, dan dua lainnya sakit dan perlu pengobatan,” jelasnya.

Selain itu, penularan ini pun bisa saja terjadi, karena si penderita kusta, tak menyadari kalau ia menderita kusta, hingga tanpa disadari ia telah menyebarkannya ke orang lain.

“Sampai sekarang kusta belum ada vaksinnya. Obatnya  hanya MDT (Multydrug teraphy). Obat ini bisa ditemukan di puskesmas dan gratis.  Semua petugas puskesmas sudah dilatih untuk mengobati penyakit kusta. Kusta harus diobati selama 6-12 bulan,” ujarnya.

Namun, meski sudah dinyatakan sembuh, kata Wiendra, paling tidak 2 hingga 5 tahun masih dalam pengawasan petugas. Karena selama masa itu  masih ada reaksi dari kusta, meski tak kena kusta lagi dan tidak menular. Hal ini tetap harus diobati meski bukan dengan pengobatan kusta.

Untuk menghindari kusta, Wiendra menyarankan, agar memeriksakan diri secara teratur untuk mengetahui secara dini penyakit kusta. Mengkonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta olaha raga yang teratur juga bisa menghindari penyakit kulit ini.

Selain itu, diperlukan juga penanganan dengan cepat dan menemukan penderita sedini mungkin, baik itu ditemukan oleh  petugas kesehatan atau dari keluarga sendiri.

“Kusta itu bukan kutukan, seperti isu yang beredar di masyarakat” pungkasnya

Penyakit kusta ini masih menjadi momok dunia, walaupun bisa diobati secara sempurna hingga sembuh. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO), Indonesia menempati peringkat tertinggi ketiga penderita kusta di dunia setelah India dan Brasil sejak tahun 2009.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!