Musik, Musisi, Politisi, Tahun Pemilu, Slank dan Slankers

Tahun 2014, masyarakat Indonesia dihadapkan dengan agenda pemilihan umum (pemilu) untuk mencari siapa yang cocok dan bisa memegang amanah untuk memimpin tanah air tercinta ini.

Harap–harap cemas dirasakan semua elemen masyarakat. Semua harapan rakyat dititipkan kepada para calon pemimpin selanjutnya agar tentunya bisa membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

Begitu pula para musisi dan para pelaku musik lainnya yang  pastinya juga menitipkan banyak harapan kepada pemimpin, setidaknya untuk 5 tahun ke depan.

Tidak hanya pemilihan umum (pemilu) di tahun 2014, para penggiat musik juga dihadapkan dengan jaman yang sudah serba digital. Karena seperti kita tahu, selain pembajakan yang memang sudah susah untuk diberantas, jaman sekarang juga sangat gampang mendapatkan musik yang diinginkan dengan cara mendownload secara ilegal. Ini hal yang harus dipikirkan serius karena maraknya pembajakan membuat penjualan CD menjadi menurun drastis.

Slank

Membicarakan politik di tahun 2014 ini, tentunya para pelaku politik ini berbondong–bondong untuk mendapat perhatian masyarakat guna mendulang suara yang banyak dan bisa memimpin negri ini. Salah satunya menggunakan para musisi papan atas yang  mempunyai fans yang sangat banyak. Contohnya SLANK dengan slankers yang tersebar di seluruh Indonesia.

Faktor tersebut mungkin menjadi alasan para pelaku politik baik Partai Politik, Calon Legislatif (Caleg), Calon Presiden (Capres) untuk menggunakan jasa para musisi yang mempunyai basis fans besar. Di sinilah para musisi harus menggunakan hak untuk menyeleksi dengan baik karena para fans akan menilai sikap yang diambil para musisi.

Tapi tidak sedikit  juga para  musisi yang mengambil sikap untuk tidak memilih, membela para pelaku politik, karena mungkin akibat sedikitnya rasa percaya terhadap para pelaku politik Indonesia. Banyak faktor yang membuat para musisi tidak menggunakan hak pilihnya.

Tentu banyak juga para musisi yang menggunakan kesempatan ini sebagai aji mumpung untuk mencari keuntungan materi semata. Tidak sedikit para pelaku musik yang menaikkan tarif mereka ketika dipakai jasanya oleh para pelaku politik Indonesia. Masih banyak keuntungan lainnya bila jasa mereka dipakai oleh pelaku politik.

Pembajakan

Harapan yang sama dari para musisi mungkin adalah tindakan tegas dari pemerintah baru untuk memberantas pembajakan yang di masa pemerintahan sebelum–sebelumnya tidak menjadi prioritas utama sebagai agenda kerja pemerintah. Juga masalah undang–undang hak cipta yang sudah lama tak kunjung diselesaikan. Ini adalah salah satu alasan mengapa banyak musisi yang kontra dengan pemerintahan, karena masalah hak cipta tidak menjadi prioritas utama dalam agenda kerja pemerintah.

Selain pemilu, di tahun ini pun para musisi dihadapkan dengan era serba digital, yang memaksa para pebisnis toko CD musik memutar otak agar bisa survive.

Di era serba digital ini sangat gampang mendapatkan lagu–lagu yang diinginkan dengan cara mendownload secara ilegal. Ditambah juga layanan streaming yang banyak ditentang oleh para musisi karena mereka belum tahu bagaimana cara menghitung royalti dari lagu yang dipakai penyedia layanan streaming.

Contohnya layanan streaming SPOTIFY. Layanan streaming ini bermarkas di London, Inggris dan Stockholm, Swedia dan pertama kali diluncurkan pada bulan Oktober 2008 oleh Swedish Star up Spotify AB.

Sedari awal diluncurkannya layanan streaming SPOTIFY, sambutan baik oleh para penikmat musik berdatangan namun tidak bagi para musisi.

Musisi yang terang–terangan menentang layanan ini adalah Thom Yorke, vokalis Radiohead, karena tak ada kompensasi bagi seniman. Selain Thom banyak juga musisi yang menarik lagunya dari layanan streaming ini, karena mereka merasa ada kecurangan dari cara pembayaran perusahaan Spotify.

Tentunya peristiwa tersebut bisa menjadi pelajaran bagi para musisi dan para pelaku musik di tanah air untuk mencari cara agar karya mereka tetap dihargai. Karena semakin gampang orang mendapatkan musik semakin banyak orang yang malas mencari CD berbentuk fisik. Faktor itulah yang membuat penjualan CD menurun sehingga memaksa toko–toko musik gulung tikar.

Dari pembahasan di atas tentunya dibutuhkan sikap dan kreatifitas dari para penggiat musik untuk mencari jalan keluar. Bagaimana caranya bisa bertahan dengan jalurnya, memilih pemimpin yang pro dengan musisi dan mencari cara agar musiknya bisa tetap dihargai oleh orang banyak.

Ini semua membutuhkan kerjasama antara pemerintah dan para musisi agar masa depan musik Indonesia semakin cerah.

(kafemusisi.com)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!