udara, segar, cariu, rusa

"Udara segar alami, gemuruh arus sungai, pepohonan hijau dan rusa yang
bisa diajak bermain di Cariu!"


Pagi ini saya bangun dengan perasaan gembira, karena saya sudah menanti-nantikan trip Travel Writing Workshop ke Penangkaran Rusa Cariu.

Sebenarnya tempat tersebut tidak jauh dari Jakarta, hanya sekitar 2 jam perjalanan dari UKI, Jakarta Timur, tepatnya di daerah Cariu, arah Jonggol. Namun ketika saya tiba di tempat tersebut bersama rombongan Nexttrip yang dipandu oleh John dan Chika, rasanya seperti berada di tempat yang benar-benar terpencil. Udara di Cariu terasa segar. Belum lagi suara gemuruh arus sungai Cibeet, benar-benar membuat perasaan nyaman dan tenang.

Memasuki Penangkaran Rusa Cariu, kita harus melewati jembatan gantung yang terbuat dari anyaman bambu. Karena jembatannya sempit dan ringkih, hanya 10 orang diperbolehkan berada di atas jembatan itu setiap kalinya. Bagi yang takut menyeberang jembatan di atas arus sungai deras, menyeberanglah perlahan. Bagi yang berani, jangan lupa berfoto di tengah jembatan karena pemandangan sungai Cibeet juga amatlah indah.

Melihat segerombolan rusa dari kejauhan, hati saya bertambah gembira. Jalan setapak curam menuju area penangkaran rusa sudah saya lupakan. Saya mulai mengamati rusa-rusa itu. Rupanya ada rusa asal India, jenis berkulit totol yang sering kita lihat di Istana Bogor, dan ada pula rusa Timor yang asli Indonesia. Totalnya ada 80 ekor rusa di penangkaran tersebut. Yang tidak kami jumpai adalah rusa Bawean yang liar dan senang berteduh di semak-semak, jauh dari keramaian.

Bersama-sama dengan petugas, kami diperbolehkan memberi makan rusa dengan potongan ubi mentah yang disediakan, dan juga dengan kacang mentah atau kacang kulit yang kami bawa. Acara memberi makan ini menjadi amat menarik karena rusa-rusa tersebut mendekat dan makan langsung dari tangan kami. Rusa dapat mulai bereproduksi sejak usia 3 tahun. Dalam sekali reproduksi dapat dilahirkan 2 ekor rusa per induk. Tentu saja ini juga dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan. Rusa jantan yang ada di penangkaran ini juga dipelihara untuk diambil tanduknya. Secara alami rusa mengalami pergantian tanduk setiap 2 tahun sekali. Tanduk tua yang lepas dapat dijadikan pajangan. Namun yang bernilai jual tinggi adalah tanduk muda yang dapat diekspor ke Korea dan dijadikan obat herbal disana. Jangan khawatir, rusa-rusa ini dibius pada saat dioperasi untuk pemotongan tanduk mudanya. Tanduk pun akan tumbuh kembali. Oiya, hati-hati ya bila berdekatan dengan rusa jantan yang tanduknya panjang. Bila tak waspada, bisa-bisa kita tertusuk atau terbentur tanduk rusa yang kuat itu. Tak jarang kita juga bisa menyaksikan dua rusa beradu tanduk memperebutkan makanan.

Usai memberi makan dan berfoto, kami berkumpul di warung dekat sungai, menikmati gorengan pisang, bakwan dan ubi. Secangkir teh dan kopi panas turut menyertai. Untuk yang sudah lapar, bisa juga memesan karedok yang bumbunya diulek langsung di tempat oleh ibu penjualnya. Benar-benar kenyamanan alami.

Bagi peserta yang membawa anak-anak, dapat pula mengajak mereka main di pinggir sungai, menikmati air yang dingin. Dengan begitu banyaknya hal untuk dinikmati di Cariu, tempat ini amat cocok untuk menjadi tujuan wisata keluarga anda berikutnya!



Penulis adalah seorang karyawati salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!