gadget, bandwith, lemot, kominfo

KBR68H, Jakarta – Jumlah pengguna telepon genggam di Indonesia sudah mencapai 285 juta orang. Dari jumlah itu, 40 persen diantaranya adalah penggunan telepon pintar. Semakin banyaknya pengguna telepon pintar membuat penggunaan bandwith semakin besar.

Staf ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika Henry Subiakto mengatakan, saat ini frekwensi yang dialokasikan untuk telekomunikasi sebesar 650 MHz.  Jumlah itu diperkirakan akan bertambah menjadi 1750 MHz pada tahun 2020. Apabila frekwensi untuk telekomunikasi tidak ditambah, maka pada tahun 2020 semua gadget yang ada di Indonesia akan berjalan dengan lemot atau lambat.

“Sekarang ini semua provider selalu menyediajan fitur-fitur baru, setiap penambahan fitur itu kan perlu bandwith. Alokasi yang diberikan untuk sektor telekomunikasi saat ini hanya 650 MHz. Dengan jumlah penggunan smartphone yang terus bertambah maka bandwith yang diperlukan juga semakin besar. Karena itu, perlu ada penataan serta penambahan frekwensi, kalau tidak semua gadget yang ada di Indonesia pada 2020 akan lemot dan mejen (berhenti-red),”kata Henry dalam seminar Tata Kelola Internet dan Kebebasan Media Berbasis Internet yang diselenggarakan AJI Indonesia bersama Ford Foundation di Jakarta, Kamis (16/1).

Henry menambahkan, peningkatan kebutuhan frekwensi untuk sektor telekomunikasi di luar dugaan. Awalnya, industri telekomunikasi hanya menggunakan frekwensi untuk telepon juga pesan pendek (sms). Kini, sektor telekomunikasi memerlukan bandwith lebih besar karena adanya media sosial seperti Facebook, Twitter hingga Path yang bisa dibuka dari telepon pintar.

Selain itu, penyedia layanan seperti Indosat, Telkomsel dan XL berlomba membuat fitur baru untuk memanjakan pelanggannya. Akibatnya, jumlah bandwith yang disediakan sudah penuh dan membuat koneksi internet semakin lambat.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!