KBR68H - Jukung-jukung itu berderet di pasir putih teluk yang tenang. Jajaran bukit cadas dirimbuni pepohonan melatari teluk yang begitu damai. Siang itu hawa gerah memeram kami yang baru saja tiba dari perjalanan panjang menuju tempat ini selama lebih kurang 12 jam dari Jakarta. Terguncang-guncang di mobil APV selama dua jam lebih melalui jalanan rusak. Teluk Kiluan nama tempat tersembunyi ini, begitu menggoda kami untuk segera mengusir gerah dalam kesejukan airnya.

Jukung jemputan telah tiba dari Pulau Kelapa, pulau di muka teluk Kiluan. Perahu ramping bercadik batang bambu di kanan-kiri itu hanya boleh ditumpangi maksimum 5 orang. Angin semilir sejuk menepis muka perairan teluk ini, menciptakan gelombang-gelombang kecil di permukaan. Jukung yang membawa kami membelah jernih air, meninggalkan jejak baling-baling motor yang mendehem halus. Teluk ini begitu tenang.

Di depan kami sebuah pulau mungil dengan pasir putih sudah tampak menawan. Ya, tak sampai 15 menit perjalanan jukung. Gradasi warna biru laut air pesisir pantai itu membuat hati berdesir. Ayolah, 15 menit seperti setahun perjalanan. Godaan itu terlalu kuat, membuat gemas dengan laju jukung yang santai. Tapi, memang ini bukan tempat untuk menggebu nafsu. Ini tempat menikmati kecantikan alam tanpa mesti terburu. Ia mesti dihampiri dengan rasa peduli.

Lunas depan jukung menghujam pasir putih pantai pulau Kelapa. Tukang perahu segera mengikat tali kapal ke tambatan. Kami menurunkan backpack dan perlengkapan snorkling dan membawanya ke penginapan. Kelembutan pasir putih menyambut kami. Rimbun pohon ketapang dan guguran daun-daun kering membawa kami ke rumah panggung dengan 6 bilik kamar. Satu kamar bisa berisi 5 orang dengan jajaran kasur digelar di lantainya. Sorry, kami tak bisa kelamaan beramah-tamah dengan induk semang penginapan. Setelah meletakkan backpack, kami langsung menenteng alat snorkling dan berhambur ke pantai, byur! Segar sekali.

Keindahan Bawah Laut
Apalagi yang kita dambakan saat snorkling selain keindahan terumbu karang dan beragam biota laut di bawah sana. Terumbu karang di sisi selatan pulau Kelapa masih relatif cantik. Konon dulu ada yang suka mencari ikan menggunakan bom. Beberapa spot memang tampak banyak serpihan karang yang remuk. Tapi karang masih terlihat cantik karena aktivitas pengeboman ikan sudah dilarang.

Beragam ikan karang dari ukuran kecil hingga sedang juga banyak dijumpai. Ikan kakaktua, angle fish, maupun ikan grouper jamak dijumpai bermain di gugusan karang tepian pulau ini. Sepertinya tak ada rasa bosan untuk menelusuri gugusan karang ini. Panas matahari menghangatkan perairan di teluk ini membuat kami makin betah berlama-lama menikmati keindahan bawah laut pulau ini. Hanya mentari sore yang membuat kami beranjak dari sana, karena air pasang mengangkat butiran pasir halus menutupi pandangan kami.

Seekor kera ekor panjang bergelayutan di puncak pohon. Itu kera satu-satunya di pulau ini. Tak tahu persis dari mana asalnya. Mungkin berenang dari pulau Sumatera di seberang sana. Kami berbilas untuk segera menikmati cemilan kecil di penginapan.


Sunset yang Menawan
Dari rumah panggung penginapan kami seberkas cahaya keemasan tampak memantul dari sisi barat pulau mungil ini. Oh iya, kenapa kami bisa terlupa ada moment yang tak boleh dilewatkan; sunset. Beberapa dari kami memilih menunda berbilas dan segera menenteng kamera menyusuri jalan setapak menembus rimbunan pohon dan, wow menakjubkan!

Air yang mulai pasang perlahan-lahan merayap menutupi batu-batu karang di pantai barat. Sang surya yang mulai pamit undur membalut lembut muka air dan batu-batu karang ini dengan cahaya keemasannya. Siluet tebaran karang menciptakan pemandangan yang menentramkan hati. Kami berfoto-foto disana.

Seiring tenggelamnya mentari, air pasang mulai mendesak kami kian menepi. Kami beranjak kembali ke penginapan dalam keremangan sore dan segera menikmati makan malam. Mengisi malam dengan permainan kartu remi, menghantar kami dalam istirahat nyaman tanpa gangguan seekor nyamuk pun.

Atraksi Lumba-Lumba
Semilir angin dingin masih memaksa kami untuk merapatkan jaket ke badan pagi itu. Namun beberapa orang sudah mulai mondar-mandir bersiap menuju ke spot lumba-lumba. Untuk menyaksikan akitivitas hewan periang ini, kita memang mesti bangun pagi-pagi. Malas bangun pagi pasti sudah tidak kebagian jukung yang bisa disewa untuk menuju spot lumba-lumba.

Jukung-jukung sudah bersiap. Tak seperti ketika berjukung dari teluk Kiluan ke pulau ini yang boleh berlima dalam satu jukung, untuk aktivitas melihat atraksi lumba-lumba ini jukung hanya boleh dimuati tiga orang plus pengemudi. Semua penumpang wajib mengenakan baju pelampung. Dengan penuh harap kami menyiapkan diri dengan kelengkapan maksimal; topi, sun glasses, sunblock-biar kulit tidak terbakar mentari, dan tentu saja kamera.

Pepohonan di barisan bukit pulau Sumatera di seberang sana tampak masih disaput kabut tipis. Kami melewati dua gugusan batu karang yang tampak gagah menahan hempasan ombak. Jukung-jukung mulai bergerak meluncur ke arah laut selatan. Tak berapa lama lepas dari mulut teluk, jukung mulai disambut ombak yang lumayan tinggi. Jukung naik menanjak mengikuti gelombang yang datang kemudian menghempas turun. Jangan harap baju kering. Ini situasi yang berbeda. Kurang lebih setengah jam kami harus menebalkan nyali berdansa dengan gelombang. Jukung-jukung lain seringkali tak terlihat karena gelombang laut menutup pandangan.

Sepanjang perjalanan ada yang tegang dan diam terpaku tak berdaya, ada juga yang berusaha mengalihkan rasa takutnya dengan bernyanyi lagu apa saja. Duduk di bagian depan motor seorang teman wanita tampak komat-kamit membaca doa. Ini memang moment diri merasa kecil dan perlu pelindung. Saat Tuhan baru dibutuhkan. Semoga Tuhan memaklumi. Tapi bergeser sedikit ke belakang pemandangan jauh berbeda, tampak pengemudi jukung justru cuek dengan situasi sekitar. Dua tangannya asyik mengetik SMS di telepon selularnya. Patas saja dari tadi sering terdengar ringtone berdering. Rupanya Tuhan mengirim pesan rasa aman via SMS. Terus terang pemandangan itu cukup membuat kami lebih rileks.

Jukung-jukung timbul-tenggelam diantara tinggi gelombang laut selatan. Mendadak kami dikejutkan pemandangan lompatan dua sosok abu-abu mengkilap di depan kami. Ya, itu mereka yang kami tunggu-tunggu, lumba-lumba di habitatnya yang asli. Kami bersorak girang. Namun mereka kembali menghilang untuk beberapa lama. Kami mengira dua sirip lumba-lumba itu adalah hadiah kami pagi itu.

Laut masih bergelombang, namun menjadi begitu senyap karena kami terus menyapu pandangan ke seluruh permukaan laut, berharap akan ada lagi lumba-lumba yang melompat. Jukung kembali dipacu dengan kecepatan sedang, berputar-putar menerka spot-spot mana yang mungkin akan menemukan lumba-lumba. Pengemudi jukung kami tampak menambah laju, ternyata jukung diarahkan ke bawah kerumunan burung elang laut yang tampak berputar-putar di atas spot tertentu. Benar saja, tak lama kemudian serombongan lumba-lumba berlompatan disana. Wow, sungguh membuat hati gembira.

Mentari pagi perlahan mulai mendaki langit. Gumpalan mendung-mendung tipis memecah cahaya matahari menjadi sinar-sinar kemegahan dari angkasa. Camar-camar laut terbang melintas. Pemandangan tak terlupakan. Laut tak lagi senyap. Sorakan para penonton atraksi lumba-lumba bergantian dari segala penjuru. Setidaknya ada 20an jukung yang tampak bertebaran di area ini. Lumba-lumba tampak mulai ramai berlompatan di berbagai titik.

Tiba-tiba tepat di depan jukung kami seekor lumba-lumba melompat riang. Diikuti beberapa lainnya yang tampak berenang-renang persis di samping perahu kami. Ingin rasanya ikut terjun ke sana dan berenang bersama mereka. Sungguh tak terlukiskan keriangan hati. Tak ada lagi debar ketakutan pada ombak tinggi. Digantikan debar kegembiraan melihat satwa liar ini begitu riang berlompatan di sekitar kami.

Kira-kira sejam kami menyaksikan keceriaan alam pagi itu. Jukung kembali diarahkan ke pulau Kelapa. Pukul sembilan kami sudah kembali ke penginapan. Sarapan pagi lauk ikan selar sudah siap untuk kami santap. Makan pagi ini diselingi cerita seru tentang lumba-lumba yang kami jumpai tadi.

Laguna Celah Karang
Perut kenyang dan kami tak ingin menyia-nyiakan waktu kami yang tinggal sebentar. Siang nanti kami mesti kembali pulang ke Jakarta. Objek berikutnya yang kami akan kunjungi adalah laguna di ujung pulau. Menurut penjaga penginapan, laguna itu lumayan asyik buat snorkling. Tapi kalau sudah terlalu siang, pasang air laut dan gelombang laut selatan kurang aman buat snorkling disana.

Menyusuri jalan setapak sisi luar pulau ini sangat mengasyikan. Sebelah kiri pantai berpasir putih diselingi batu-batu karang yang eksotis. Sebelah kanan rimbunan pohon teduh yang melindungi dari terik mentari. Laguna yang kami tuju ada di ujung pulau. Sebuah celah kecil bertebing karang mesti kami lalui untuk menuju laguna. Sobri dan Dedek, dua bocah mungil pemandu kami, berlompatan di undakan licin dan tajam bebatuan tebing. Kami mengikuti dengan ekstra hati-hati. Mereka berdua telanjang kaki, sementara kami bersandal. Pegang melangkah, pegang melangkah... begitu mereka mengajari kami memanjati tebing curam itu. Pastikan pegangan kita kuat pada tebing baru melangkah ke tapak yang tepat.

Di puncak tebing mentari siang mulai menyengat. Tapi pemandangan begitu memukau. Gugusan-gugusan batu karang berjajar membentuk susunan acak yang indah. Deburan ombak menghantam dinding-dindingnya menciptakan percikan buih menyegarkan mata. Laguna ternyata persis di bawah kami. Dibentuk dari ceruk karang yang menjebak air pasang ke dalam ceruknya. Tapi, ombak pasang siang itu cukup besar, membuat kami tak diijinkan snorkling di sana. Terlalu berbahaya. Kami mencoba bertahan dengan peluh di atas batu karang, menikmati keindahan alam yang luar biasa, dan tentu saja berfotoria. Tiba saatnya kami mesti kembali ke penginapan untuk bersiap pulang.

Calon Angkatan Laut
Listrik dari genset hanya menyala pukul enam sore hingga enam pagi. Ini tak cukup untuk mengisi tandon air di tiga bilik mandi yang tersedia. Alhasil kami mesti antri mandi. Sambil menanti giliran, haram hukumnya kalau kami tak menikmati saat-saat terakhir di sini. Segera snorkling set kami ambil dan kembali nyebur ke kejernihan pantai yang membiru siang itu. Terumbu karang di sisi kiri pulau kemarin belum kami nikmati. Kami meluncur kesana.

Kami ditemani kerumunan anak-anak kecil dari Teluk Kiluan. Mereka sangat antusias menemani kami. Setiap hari minggu mereka menyempatkan diri mendayung perahu dari Teluk Kiluan ke pulau ini untuk menghabiskan waktu liburan. Waktu ditanya apakah mereka tidak takut berperahu sendiri tanpa ditemani orang dewasa, mereka tertawa. Kami ingin jadi A-eL (Angkatan Laut), kami suka laut! Beruntunglah laut kita punya anak-anak seriang mereka, yang punya cinta tulus buat lautnya.

Anak-anak ini segera menanggalkan seluruh baju dan celana, telanjang bulat, dan berlarian mengambil kepingan styrofoam yang terdampar di tepian pantai. Ya, mereka menggunakannya sebagai pelampung untuk menemani kami menikmati keindahan terumbu karang di sisi kiri pulau. Kecipak-kecipuk air di sekeliling kami, kaki-kaki mereka lincah berenang di sekitar kami, dengan canda tawa riangnya. Terumbu karang warna-warni di bawah sana, dan ikan-ikan karang yang asyik menjagai karangnya, sementara di sekitar kami bocah-bocah pantai seperti tak kenal lelah dengan keceriaannya. Sungguh suasana yang luar biasa.

Giliran mandi sudah tiba, kami mesti beranjak dari lokasi snorkling terakhir. Salah satu yang seru di pulau ini adalah kamar mandinya yang menyatu dengan sumur timba. Kami mesti menimba air dari sumur sedalam lima meter itu dan mengguyur diri langsung dari timbanya, segar sekali.

Jukung-jukung sudah bersiap menjemput. Berat rasanya meninggalkan kedamaian pulau ini. Jukung membelah teluk yang tenang, membawa kami pulang. Keindahan dan ketenangan pulau ini begitu memikat. Tak berlebihan mungkin kalau kami menyebut tempat ini serpihan surga yang tertinggal di perairan selatan Sumatera.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!