KBR68H - Naik gunung itu bukan sekadar urusan fisik, tapi mental. Yakin saja bisa sampai ke puncak berapa pun waktu yang dibutuhkan,begitu kata teman saya yang sudah berulang kali naik ke Puncak Gunung Gede.Buat yang tidak pernah naik gunung seperti saya, tentu tidak mudah menyiapkan fisik dan mental dalam waktu sekitar dua minggu untuk lari pagi dan sore. Tim dibagi dua, mereka yang kuat berjalan cepat berada di depan dan saya bersama satu kawan lainnya ditemani porter berada di belakang.

Pilihan rute untuk mencapai Puncak Gunung Gede pun dipilih yang paling mudah. Mudah dalam arti sudah disediakan jalur resmi, ada pemandu dan banyak lokasi wisata supaya perjalanan tidak akan terlalu terasa berat meski menanjak. Pilihannya adalah lewat jalur Cibodas dan saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang.

Biaya masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango jalur pendakian Cibodas terbilang sangat murah. Untuk pendaki lokal harga tiketnya hanya tujuh ribu rupiah sementara untuk warga asing ditetapkan dua puluh ribu rupiah ditambah biaya asuransi dua ribu rupiah. Sangat murah dibanding dengan Gunung Rinjani yang menetapkan biaya masuk seratus lima puluh ribu rupiah untuk warga asing.

Titik awal pendakian sudah di 1200 mdpl yaitu Cibodas, perjalanan satu jam mendaki maka kita akan berjumpa dengan air terjun Cibeureum yang berada di 1560mdpl. Tahun 2009 saya kemari, masih ada tiga air terjunnya yang mengalir deras, tapi kemarin cuma menyaksikan dua air terjun saja. Sebelum mencapai air terjun Cibeureum, kita akan menjumpai Danau Biru yang meski airnya hijau karena ganggang di dalamnya tapi begitu memantulkan warna langit tampak biru nan cantik.

Sayangnya sepanjang perjalanan pintu masuk Cibodas sampai ke Cibeureum, saya menemukan banyak sampah lalu papan pengumuman yang dicorat-coret oleh pengunjung.

Istirahat 10 menit di air terjun Cibeureum sebelum pendakian dilanjutkan menuju lokasi wisata berikutnya, sumber air panas di ketinggian sekitar 2100mdpl. Buat saya, inilah lokasi paling menakjubkan. Ada adrenalin terpacu saat harus menapaki bebatuan yang terendam air panas. Asap mengepul di kiri dan kanan sementara jarak dengan jurang hanya dibatasi tambang.

Hanya sekitar 10 menit dari mata air panas adalah lokasi peristirahatan pertama, Kandang Batu. Kondisinya hancur lebur oleh sampah yang berserakan di sekitar lokasi. Pedih rasanya menyaksikan plastic bekas mie instant dan botol mineral bertebaran dimana-mana. Janji makan siang dengan tim pertama gagal karena jarak kami terlalu jauh dan lokasi Kandang Batu yang kotor membuat kami sungkan membongkar bekal. Simpan saja untuk di Kandang Badak.

Perjalanan Kandang Batu menuju Kandang Badak yang ada di ketinggian 2400mdpl lumayan berat, melewati Panca Weuleuh, pendakian yang cukup terjal. Saya lebih sering istirahat di sini dan menyantap cemilan coklat hitam lebih banyak. Di bawah pendakian Panca Weuleuh, ada aliran sungai yang airnya segar sekali, lumayan bikin semangat baru setelah cuci muka di sana.

Sebuah pohon tumbang menghalangi jalur ke arah Kandang Badak dan menyesatkan sejumlah pendaki hingga mereka perlu memutar arah kembali. Beruntung tiga orang pendaki yang baru turun dari puncak memperingati saya,lurus saja bu, loncatin aja pohonnya supaya ga nyasar.

Pukul 5.30 sore saya sampai di Kandang Badak. Tim pertama sudah membongkar perlengkapan dan siap mendirikan tenda. Saya masih terlalu letih bahkan untuk berdiri. Suhu di ketinggian 2400mdpl ini sudah sangat dingin buat saya, sekitar 8 derajat celcius.

Kami istirahat di Kandang Badak, nasi liwet dan spaghetti menjadi santapan malam itu. Kami tidur lebih awal karena mengejar waktu naik ke Puncak Gede dinihari agar bisa menyaksikan Summit Attack atau matahari terbit di sana.

Pukul tiga dinihari, tenda dan perbekalan kembali dirapikan dan perjalanan dilanjutkan. Seperti hari sebelumnya, tim pertama hanya butuh 15 menit sebelum benar-benar menghilang dari pandangan kami. Perjalanan ini semakin berat seiring semakin tipisnya oksigen yang tersedia di udara. Saya jadi lebih sering istirahat, bahkan per lima menit. Sesak napas. Sekitar saya sudah tidak ada lagi pepohonan besar yang biasa saya temui di Hutan Sahabat Green, yang ada hanya perdu Cantigi dan bebatuan besar di sepanjang jalur pendakian.

Adalah Tanjakan Setan, tebing curam yang harus didaki dengan menggunakan tambang dengan tingkat kemiringan hampir 75 derajat. Entah kekuatan apa saya mendaki tanpa berhenti dan segera sampai di lokasi yang lebih datar. Beruntung kami berangkat dinihari sehingga saya tak perlu melongok tajamnya lebih itu dan tingginya lokasi yang harus saya daki.

Sekali lagi saya hampir putus asa. Tapi jadi pengalaman paling menggelikan ketika saya terkapar letih di sebuah batu besar ketika seorang lelaki dengan ransel menawari saya nasi uduk. Ya Tuhan ini Gunung atau pasar?

Butuh 3 jam dari Kandang Badak sampai ke Kawah Ratu. Tim pertama melambaikan tangan ketika saya tiba, mereka hampir tak percaya saya bisa sampai di sana. Saya kan tidak punya pilihan kecuali mencapai puncak daripada turun gunung dengan jalur yang sama melelahkannya.

Meski tiba pukul 5 pagi, saya belum kehilangan moment matahari terbit. Semburat merahnya di sebelah timur mengagumkan. Saya berada di atas awan dan perjalanan ini terbayar dengan keindahan yang ada

Untuk benar-benar mencapai puncak, saya meneruskan perjalanan landai yang sejauh mata memandang tak henti mengagumi keindahan alam dari atas Kawah. Di sebelah Puncak Gede adalah Puncak Pangrango, dari kejauhan adalah Gunung Salak dan Halimun, di lembah adalah kota Cianjur. Begini rasanya ada di atas puncak gunung, seperti sangat dekat dengan awan.

Perjalanan belum usai. Tak afdol kalau belum sampai ke Alun-Alun Surya Kencana yang terkenal itu. Padang rumput dan bunga Edelweis menanti untuk dinikmati. Perjalanan menurun 1,8 km menuju Alun-Alun Surya Kencana melewati Cantigi berlangsung hanya sekitar 20 menit. Begitu indah bahkan lebih indah dari yang diceritakan teman-teman. Luas sekali. Saya seperti ingin berguling-guling di hamparan rumput yang tertiup angin dan bergelombang layaknya ombak di lautan. Matahari menyengat tapi tak memberikan cukup kehangatan karena jaket tebal tak urung dilepas dari tubuh ini. Saya terkagum-kagum.

Sayangnya kami tiba di musim pendakian dan harus berbagi keindahannya dengan ratusan orang lainnya di Alun-Alun Surya Kencana yang bising dan sibuk foto-foto belum lagi ada tukang minuman teh manis dan kopi di sana. Hadeuh

Istirahat sambil sarapan bubur krim lumayan memberikan energi bekal turun nanti. Perjalanan hampir 30 menit dari Alun-Alun Surya Kencana ke Batu Dondang, batas akhir padang rumput sebelum turun kea rah Hutan Sahabat Green Sarongge.

Dua setengah jam melalui hutan lebat pepohonan akhirnya kami sampai ke Camping Ground Hutan Sahabat Green. Pengalaman luar biasa dan masih akan terus semangat jika harus mengulanginya berkali-kali.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!