Jejak Perusak Alam di Gunung Gede

Angin bertiup kencang. Warung-warung tenda di beberapa sisi jalan menuju kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Cibodas tak kuasa berdiri tegak, terjengkang diterpa angin. Subuh itu kami singgah di warung Mang Eep untuk mengepak perbekalan se

Selasa, 29 Jan 2013 11:56 WIB

Angin bertiup kencang. Warung-warung tenda di beberapa sisi jalan menuju kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Cibodas tak kuasa berdiri tegak, terjengkang diterpa angin. Subuh itu kami singgah di warung Mang Eep untuk mengepak perbekalan sebelum pendakian. Hati berdesir melihat pucuk-pucuk cemara bergeliat diliuk derasnya angin Desember. Setelah menyantap sarapan dan menyeruput teh manis hangat, kami bersiap melakukan pendakian ke Puncak Gede (2.958 mdpl). Semburat mentari pagi mulai mengintip, jam 6 pagi kami mulai bergerak. Angin masih bertiup kencang menusukkan dingin. Mang Obik porter kami, malah sudah duluan melesat memikul carier hingga tak terlihat.

Mulai Pendakian
Tiba di Pos pertama beberapa dari kami melapor ke petugas Taman Nasional. Pos ini tidak berpintu, hanya ada plang bertuliskan larangan masuk tanpa ijin. Entah berapa orang yang tetap bisa masuk tanpa ijin karena tak ada pintu dan petugas sibuk melayani pendaki yang melapor. Mungkin lebih baik jika dipasang pintu supaya larangan masuk tanpa ijin lebih efektif. Coba kita mengintip model gerbang masuk pendakian Kinabalu di Malaysia. Pintu masuk jalur pendakian selalu dikunci dan menempel di sisi ruang petugas jaga. Jelas efektif dalam pengawasan.

Jalur pendakian Cibodas memang relatif nyaman. Kita berjalan di jalan berbatu yang tertata rapi dan lapang, namun tetap di bawah tajuk-tajuk pepohonan hutan yang lebat. Oksigen berlimpah yang tak kita punya di lingkungan Jakarta. Windbreaker sudah pas dikenakan di saat angin yang lumayan kencang begini. Deru angin menerobos pepohonan menimbulkan suasana yang asyik.

Namun belum jauh kami menikmati suasana alam yang menyegarkan ini, kami terbentur pemandangan yang sungguh menggangu. Jejak vandalisme pendaki yang bermental perusak alam. Meninggalkan corat-coret tidak berguna dan hanya memamerkan kedunguan.

Dalam kegusaran kami melanjutkan perjalanan. Ada apa di depan sana. Katanya ada telaga biru yang sungguh menyejukkan. (bersambung)

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi