Kawah Putih terletak di Ciwidey Kabupaten Bandung. Dari arah pusat kota Bandung butuh waktu sekitar satu jam setengah naik motor ke arah selatan, melewati banyak sekali perkebunan strawberry yang dikelola oleh petani lokal. Kalau di Puncak Bogor, pria di pinggir jalan melambaikan tulisan VILLA, maka sepanjang perjalanan menuju Kawah Putih ada banyak orang melambaikan kotak Styrofoam artinya ada kebun strawberry dan bisa petik sendiri.

Udaranya semakin dingin ketika kita semakin dekat dengan lokasi Kawah Putih. Dari pemandangan jenis pohon yang ada di kiri dan kanan yang seragam yaitu Eucalyptus, saya sudah bisa menebak kalau kami sedang memasuki kawasan yang dikelola Perhutani, termasuk juga kawasan wisata Kawah Putih.

Gerbang kayu dengan tulisan “Selamat Datang” dan logo Perhutani menyambut kedatangan kami. Bapak dan Ibu petugas berpakaian batik memberikan panduan dimana motor harus diparkir dan bagaimana bisa mencapai kawasan.

Di loket kami harus membayar sebesar lima puluh lima ribu rupiah sudah termasuk dua tiket masuk Kawah Putih @Rp 15.000,- lalu dua tiket pulang pergi naik Ontang Anting (angkot yang mengantar ke kawasan) dan tiket parkir motor. Harga tiket masuk ini jauh lebih mahal dibanding masuk kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang hanya tujuh ribu rupiah. Perbedaan ini membuat saya penasaran pada kualitas pelayanan dalam kawasan wisata Kawah Putih, apa sih yang bikin mahal.

Perbedaan pertama terasa sejak petugas loket memandu kami untuk satu pintu ke kawasan, semua diatur oleh pengelola yaitu Perhutani. Tidak ada motor yang boleh naik ke kawasan tapi hanya mobil pribadi. Mestinya mobil pribadi juga tidak usah diperbolehkan naik ke Kawah Putih toh kendaraan yang bernama Ontang Anting itu baik-baik saja mengantarkan kami ke sana. Lagi pula jalan sempit yang kadang harus bergantian antara kendaraan naik dan turun bikin tidak praktis bawa mobil pribadi.

Ontang Anting muat 14 orang, kiri dan kanannya terbuka sehingga kita dengan mudah mengambil gambar sepanjang jalan. Sekitar 10 menit sampailah kami di Kawah Putih. Sayang saat itu hujan lebat dan kabut turun teramat tebal. Tapi toh kami sudah sampai di sini masa mesti balik lagi. Untunglah jas hujan sudah dibawa sejak awal.

Menapaki tangga sekitar 50 meter dan sampailah kami di Kawah Putih. Sulfur tipis merasuki hidung. Pesan dari pengeras suara mengingatkan agar pengunjung tidak makan dan minum di sekitar kawah karena bahaya untuk kesehatan, pesan ini diputar berulang kali.

Kawah Putih, gagah dan berwibawa juga cantik sekali. Kepulan kabut asap selepas hujan mengitari kami dan menghalangi pandangan dari keseluruhan indah yang ada. Saya tidak bisa menikmati tebing kapur yang membatasi Kawah, matahari sembunyi di balik awan. Saya hanya bisa menikmati sensasi misteri dari kabut sekitar. Lokasi ini jadi tempat pengambilan foto pra nikah paling digemari, lagi murah, cuma 350 ribu rupiah. Kami bertemu calon pengantin dengan pakaian terbuka bahu sementara suhu dingin luar biasa hingga mencapai 10 derajat celcius. Hebat. Sedangkan saya bersembunyi di balik jaket tebal.

Hanya 30 menit saya menikmati Kawah Putih sebelum mendengar pengeras suara berbunyi kembali, kali ini mengingatkan pengunjung untuk turun dan keluar dari Kawah Putih sebelum jam lima sore saat bau belerang akan semakin pekat.

Saya tidak sempat menikmati Hutan Cantigi dan Goa Belanda yang ada di sana karena gerimis kembali turun.

Sedikit tentang Kawah Putih dari banner informasi yang terpampang di pintu masuk;

Kawah Putih ditemukan oleh peneliti botanis Belanda Dr.Franz Wilhelm Junghuhn pada 1837, dia menembus belantara Gunung Patuha untuk menemukan kawah indah ini. Seperti halnya kawah gunung, dari dalam danau keluar semburan aliran lava belerang beserta gas dan baunya yang menusuk hidung.

Danau Kawah Putih memiliki ciri khas. Air di danau kawahnya dapat berubah warna, kadang berwarna hijau apel kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang, kadang berwarna coklat susu. Paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih, karena itulah kawan ini disebut Kawah Putih.

Meski cuma sebentar menikmati Kawah Putih, kunjungan ke sana benar-benar berkesan. Selain menikmati keindahan dan kegagahan Kawah Putih, saya terkagum-kagum dengan pengelolaan wisata oleh Perhutani. Tidak ada sampah dimana pun, bahkan toilet umumnya bersih dan wangi. Sudah seharusnya begini tempat wisata public dikelola.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!