KBR68H - Datang ke Jambi rasanya tak lengkap bila tak mengunjungi Candi Muaro Jambi. Jaraknya tak seberapa jauh dari Kota Jambi, sekira 25 kilometer. Dari Jambi dengan menggunakan motor atau mobil bisa ditempuh dengan waktu sekira 30 menit. Waktu tempuh yang tak terlalu lama ini lantaran jalan yang mulus dan belum kenal kemacetan seperti di kota-kota besar.

Sepanjang jalan yang lenggang kita bisa melihat pohon-pohon durian menjulang tinggi. Bila sedang musim rasanya nikmat sekali menikmati buah durian langsung dari kebunnya. Sayang ketika saya ke sana pohon-pohon itu baru berbunga.

Memasuki kawasan candi kita akan langsung disambut candi berhiaskan arca penjaga. Di sekitar kita akan melihat petugas yang sibuk bekerja merestorasi situs.

Candi Muaro Jambi memang tak seberapa megah dibanding candi Borobudur. Kehebatannya pada luasnya situs yang luar biasa, membentang sejauh lebih tujuh kilometer.

Saking jauhnya jarak antar candi, untuk mereka yang ingin mengunjungi keseluruhan situs ini butuh tenaga prima. Untungnya di sekitar lokasi kita bisa menyewa sepeda untuk berkeliling. Maklum, kendaraan bermotor dilarang masuk hingga ke pelosok situs.

Usai mengunjungi candi dan perut menagih asupan. Tak afdol bila kita tak mencoba masakan khas Jambi. Di kawasan Telanai kita bisa menikmati sajian tempoyak ikan toman di rumah makan Ibu Salman. Kalau anda tak suka tempoyak yang berasal dari durian itu, bolehlah mencoba pindang kepala ikan toman. Rasa pindang ikan sejenis ikan gabus ini tak kalah sedap. Dipadu dengan sambal yang pedas nian rasanya tak mau berhenti mulut ini mengunyah..

Selain ikan toman, kita juga bisa memilih ikan patin masak pindang atau tempoyak. Harganya juga relatif tak mahal. Makan berempat tak sampai Rp150 ribu.

Saat makan di rumah makan ibu Salmah ini waspadalah bila ingin menambah minum air putih. Pasalnya tempat cuci tangannya kelewat mentereng mengalahkan tempat minum. Salah-salah air cuci tangan yang anda minum.

Puas menikmati ikan toman atau patin, bila masih ada waktu tak ada salahnya cuci mata di taman Tanggo Rajo. Tempat nongkrong kawula muda Jambi ini berada di bibir sungai Batanghari. Lebih pas bila anda datang pada sore hari. Sembari menikmati jagung bakar dan es tebu, kita bisa menyaksikan keindahan matahari terbenam dari tempat ini.

Usai menikmati matahari terbenam bila masih ada ruang di perut anda, tak ada salahnya mencoba nasi minyak. Apa pula ini? Ini nasi yang diolah dengan banyak rempah dan juga minyak samin. Rasanya seperti nasi kebuli. Cukup banyak warung yang menjualnya, di antaranya di kampung manggis. Sebagai pendamping nasi minyak anda bisa memilih kari ayam, kambing atau sapi. Tergantung selera anda. Harganya sekira Rp30 ribu.

Kalau anda belum puas menikmati kuliner Jambi dan masih ingin ngemil bisa datang ke pempek Selamat. Pangsit ikannya pantas dicoba. Tambahkan sambal, maka bersiaplah merasakan kehangatan yang membuat keringat bercucuran meski dalam ruangan berpendingin.

Selamat menikmati Jambi :)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!