Peneliti Beberkan Cara ISIS Meradikalisasi TKI lewat Medsos

Seorang buruh migran di Hongkong berinisial AK mengalami proses radikalisasi hanya dalam waktu tiga bulan. AK dideportasi ke Indonesia karena mengibarkan bendera ISIS dan mengunggah ke medsos.

Selasa, 19 Des 2017 14:47 WIB

Ilustrasi. (Foto: CREST Research/Creative Commons BY-NC-SA 4.0)

KBR, Jakarta - Kelompok teroris ISIS memanfaatkan media sosial secara cepat dan tepat untuk merekrut simpatisan atau mengubah seseorang menjadi radikal.

Peneliti dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin menyatakan pola perekrutan buruh migran yang terlibat kelompok ISIS paling banyak dilakukan melalui media sosial. Menurutnya, proses radikalisasi melalui media sosial sangat intensif dan cepat.

Solahudin---yang pernah menjadi peneliti di International Crisis Group (ICG) Asia Tenggara bersama Sidney Jones---mencontohkan ada seorang buruh migran yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Hongkong berinisial AK mengalami proses radikalisasi hanya dalam waktu tiga bulan. 

AK kemudian dideportasi ke Indonesia karena merekam video ia mengibarkan bendera ISIS lalu mengunggahnya ke media sosial.

"Sejak dia terpapar paham radikal dia mulai aktif menjadi anggota berbagai kelompok diskusi. Ia pun berafiliasi dengan kelompok ISIS. Dia banyak bergabung dengan channel Telegram, bergabung dengan banyak private chat, bahkan dia belakangan juga menjadi admin beberapa private chat," kata Solahudin di Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Baca juga:

Solahudin mengatakan, ISIS sangat pintar dalam mengelola isu menggunakan media sosial. Dari penelitian Solahuddin, ada lebih dari 600 kanal berbahasa Indonesia di Telegram yang berafiliasi dengan ISIS. Selain itu ada lebih dari 30 grup private chat berbahasa Indonesia di Telegram yang juga berafiliasi dengan ISIS.

Menurut Solahudin, orang yang bergabung dengan grup tersebut setiap harinya akan terpapar materi radikalisme dengan intensif. Satu kanal di Telegram misalnya, kata Solahuddin, setiap hari menyebarkan 50 sampai 150 materi radikalisme.

"Ini menunjukkan ada percepatan proses radikalisasi. Dalam waktu hanya hitungan bulan seseorang bisa terpengaruh," kata Solahuddin.

Laporan terakhir Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) menemukan 45 orang buruh migran Indonesia terlibat dengan kelompok ISIS di Hongkong. Bahkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan radikalisasi terhadap buruh migran tak hanya terjadi di Hongkong, tapi juga di Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia.

Baca juga:

TKI Jadi Korban

Ketua International Migrants Alliance (IMA), Eni Lestari menilai pola penyebaran radikalisme melalui media sosial menjadi ancaman baru bagi buruh migran Indonesia. 

Sebelumnya pola yang sama juga menjadikan buruh migran sebagai korban dari sindikat narkoba, penipuan uang dan penipuan berkaitan dengan kejahatan seksual.

Eni mengatakan, kondisi buruh migran khususnya perempuan sudah rentan bahkan sebelum berangkat bekerja ke negara tujuan, karena faktor keterpaksaan dan ekonomi. 

Kondisi tersebut ditambah dengan tekanan dari agen penyalur dan tak jarang dari majikan. Media sosial kemudian menjadi salah satu tempat menyalurkan ekspresi mereka.

"Sosial media inilah yang memainkan peran, karena siapapun yang mendekati perempuan-perempuan migran ini mereka tahu benar siapa yang mau disasar. Umumnya dari teman-teman ini, karena mereka terisolasi di rumah majikan. Enam hari dalam seminggu, bahkan ada yang tujuh hari dalam seminggu dan 24 jam sehari dia tak bisa keluar dari rumah. Dia sering mengeluarkan keluh kesahnya di sosial media," kata Eni melalui telewicara dalam diskusi InvestigaTalk yang digelar JARING, KBR dan CNN Indonesia, di Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Eni menyayangkan sejumlah buruh migran terlibat dengan kelompok ISIS di Hongkong. Bahkan diantaranya harus berurusan dengan proses hukum. Eni mengatakan kondisi tersebut menambah stigma dari masyarakat Hongkong terhadap buruh migran Indonesia.

Meski demikian, Eni meminta semua pihak untuk menempatkan buruh migran yang terlibat kelompok ISIS sebagai korban. 

Ia berharap Pemerintah Indonesia bisa melakukan deradikalisasi terhadap buruh migran yang terlibat kelompok ISIS serta melakukan pencegahan agar buruh migran lainnya tidak terpapar radikalisasi.

Eni mengatakan, organisasinya masih melakukan investigasi terkait motif yang bisa digunakan untuk mengajak buruh migran mendukung ISIS. 

Berbeda dengan sindikat narkoba yang mengajak buruh migran, khususnya perempuan, dengan iming-iming dijadikan isteri serta menjamin ekonomi seluruh keluarganya.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Fraksi Nasdem Berencana Keluar dari Pansus Angket KPK

  • Keluarga La Gode Ragukan Keseriusan Polisi Proses Dugaan Keterlibatan Anggotanya
  • Polda dan TNI Papua Ikut Bantu Tangani Campak di Asmat
  • Diguyur Hujan 2 Pekan, Hasil Panen Rumput Laut di Nunukan Membusuk

Perkembangan teknologi membawa banyak kemudahan bagi kita termasuk di bidang keuangan atau FinTech atau Financial Technology.