Kemenkes: Stok Obat Difteri ADS Diperkirakan Habis Sebelum Akhir 2017

Saat ini Kementerian Kesehatan hanya dapat berupaya melakukan tindakan berupa pencegahan difteri melalui vaksinasi.

Selasa, 26 Des 2017 10:22 WIB

Petugas medis merawat pasien penderita difteri di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh, Selasa (19/12/2017). Aceh merupakan salah satu daerah KLB Difteri. (Foto: ANTARA/Irwansyah Putra)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan memperkirakan persediaan obat difteri yaitu Anti-Difteri Serum (ADS) bakal habis sebelum akhir tahun 2017.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan jika melihat kasus penambahan pasien difteri saat ini, kemungkinan Kementerian Kesehatan sudah tidak memiliki stok obat ADS yang langka itu.

"Ya jelas, kalau melihat pertambahan jumlah kasus yang sehari antara 10-20 orang dengan ketersediaan ADS cuma untuk sekitar 50 orang. Mungkin sebelum akhir tahun ini kita sudah nggak punya ADS lagi," kata Jane saat dihubungi KBR, Senin (25/12/2017).

Jane mengatakan saat ini Kementerian Kesehatan hanya dapat berupaya melakukan tindakan pencegahan difteri melalui vaksinasi. Di beberapa puskesmas saat ini masih tersedia banyak vaksin untuk anak. Jane meminta para orang tua untuk mengecek jadwal vaksin anaknya. 

Namun, Jane mengatakan Kementerian Kesehatan masih kesulitan melakukan pencegahan difteri untuk orang dewasa di luar usia sekolah.

Saat ini, Kementerian Kesehatan juga belum bisa memastikan kapan kedatangan obat difteri ADS yang diimpor PT Bio Farma Persero dari India. Jane juga belum dapat memastikan apakah 2000 vial ADS yang dijanjikan Bio Farma akan dipenuhi semuanya oleh produsen. 

Hanya saja Jane mengatakan Kementerian Kesehatan telah mempersiapkan dana untuk pembelian ADS melalui PT Biofarma.

Penyakit difteri menjadi wabah di berbagai daerah di Indonesia, dan 20 provinsi ditetapkan berstatus Kejadian Luar Biasa. Hingga kini lebih dari 800 orang diduga terkena difteri, dan korban meninggal mencapai lebih dari 30 orang, baik anak maupun dewasa.

Baca juga:

Baru ikut lelang

PT Bio Farma (Persero) berjanji mendapatkan obat difteri (Anti-Difteri Serum/ADS) pesanan Kementerian Kesehatan sebanyak 2.000 vial. 

Juru bicara Bio Farma Edwin Pringadi mengatakan saat ini perusahaannya tengah berkomunikasi dengan produsen obat ADS di India. Bio Farma akan mengikuti lelang untuk mendapatkan ADS---bersaing dengan calon pembeli lain termasuk Bangladesh.

"Sekarang kami harus memesan dulu ke pembuatnya. Ini kami baru penjajakan. Mudah-mudahan bisa 2.000 vial," kata Edwin kepada KBR, Senin (25/12/2017).

Edwin mengatakan pembelian ADS dari produsen India 'berebut' dengan negara lain yang juga membutuhkan obat langka itu.

"Iya betul, karena biasanya kita melalui proses lelang. Kita berusaha memenuhi permintaan pemerintah," kata Edwin.

Berarti harganya bergantung pada penawaran tertinggi? "Iya, betul. Pasti begitu," jawab Edwin.

Edwin mengaku belum mengetahui secara detail prosedur pembelian ADS dari India. 

Apabila satu vial ADS harganya sekitar Rp1,6 juta, maka dana yang diberlukan untuk membeli 2.000 vial ADS sebesar Rp3,2 miliar. 

Setelah pemesanan, Edwin juga tidak bisa memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi produsen di India untuk mengirim obat ADS itu ke Indonesia.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Seberapa besar ketertarikan generasi milenial terhadap koperasi di Indonesia saat ini?