Kekuatan Musik Tanah Liat ala Hanyaterra

"Ciri khas daerah kita, Jatiwangi. Salah satu daerah pembuat genteng terbaik, malahan terbaik di dunia. "

Sabtu, 09 Des 2017 10:00 WIB

Penampilan Hanyatera. (Sumber: FB Hanyatera)

KBR, Jakarta- Pernah  melihat atau mendengar alat musik dari tanah? Simak Hanyaterra. Jika kebanyakan musisi yang biasa kita lihat bermain dengan alat musik mainstream, nah, ada grup musik yang memainkan alat musik yang terbuat dari genteng; mulai dari gitar, bass hingga alat tiup gesek dan pukul. Unik ya. Namanya Hanyaterra. Dari bahasa kuno Yunani Terra berarti tanah. Jadi, Hanyaterra berarti hanya tanah.
 
Maklum, band ini lahir dan dibesarkan di kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang merupakan sentra produksi genteng di Indonesia. Kehidupan Jatiwangi dengan pabrik gentengnya, membuat Hanyaterra bersemangat mengeksplorasi genteng. Tambur gerabah, ocarina, piring keramik, gamelan genteng, ceramic bowl, kereweng hingga sadatana menemani musisi Hanyaterra mencipta musik.

Menurut Bassis Hanyaterra, Andzar Agung Fauzan, kekuatan daerah asal mereka, Jatiwangi, mengiringi langkah band yang terbentuk tahun 2010 ini, untuk terus bertahan di dunia musik dengan kekhasannya. Keunikan alat musik dari tanah liat ini bahkan sudah diperkenalkan ke manca negara, di antaranya Jepang, Cek, Belanda, dan Australia.

“Kekuatannya, kita membawa ciri khas daerah kita, Jatiwangi. Salah satu daerah pembuat genteng terbaik, malahan terbaik di dunia. Jadi kekuatan orang-orang pendahulu kita yang bikin kita kuat” ujarnya kepada Host KBR Pagi Adit Insomnia dan Aika Renata di segmen “Kepo”, Senin (4/12/2017)

Karena alat musik yang mereka gunakan berasal dari tanah liat, tentu saja sangat rawan pecah. Selain itu, menurut Andzar, tantangan dalam proses membuat alat musik  membutuhkan cahaya matahari untuk pengeringan.

“Kalau musim hujan agak kesulitan, kadang juga kalau pas perform ada alat musik yang pecah karena terbuat dari keramik,” ujarnya.

Andzar mengaku, sudah lebih 100 lagu yang diciptakan secara beramai-ramai. Ada lagu yang diciptakan bersama dengan anak sekolah, pak camat, warga, ibu -ibu PKK dan lain-lain. Karena, band mereka di bawah naungan komunitas seni Jatiwangi Art Factory (JAF), sebuah komunitas seni yang lahir pada tahun 2005. Komunitas ini  rajin melahirkan karya seni dari kajian kehidupan lokal.

“Waktu awal memulai band ini, orang merasa aneh melihat kami ‘ngapain sih mukul-mukul genteng’. Lama kelamaan mereka menyadari, bahwa genteng pun adalah alat musik, menarik untuk didengar,” kenangnya.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang