Jadi Tempat Kost Pekerja Seks, MUI Banyumas Bahas Penutupan Gang Sadar

Gang Sadar yang berada di sekitar lokawisata Baturaden Banyumas itu dianggap menjadi tempat penginapan atau kost para pekerja seks.

Kamis, 28 Des 2017 18:53 WIB

Ilustrasi. (Foto: Creative Commons/Malaka85)

KBR, Banyumas – Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas mengumpulkan masukan dari berbagai kalangan masyarakat terkait keberadaan Gang Sadar. Pendapat dikumpulkan dari berbagai pihak, baik tokoh masyarakat maupun lembaga pemerintah daerah.

Gang Sadar yang berada di sekitar lokawisata Baturaden Banyumas itu dianggap menjadi tempat penginapan atau kost para pekerja seks. Pemerintah Kabupaten Banyumas pun mempertimbangkan menutup Gang Sadar.

Ketua MUI Kabupaten Banyumas, KH Khariri Shofa mengatakan musyawarah lintas sektoral itu dilakukan untuk mencari solusi terbaik bagi para penghuni Gang Sadar. Khariri mengatakan banyak pihak punya kepentingan di Gang Sadar, tidak hanya para pekerja seks, namun juga pemilik rumah maupun pekerja sektor domestik lainnya. 

"Musyawarah ini untuk menghimpun saran dan masukan tentang Gang Sadar, dari berbagai dimensi dan berbagai aspek. Sudah lama sebenarnya keberadaan Gang Sadar ini, cukup menjadi nama bagi Banyumas dan terkenal dimana-mana. Tapi keterkenalannya itu kan terkenal yang tidak baik. Terutama, karena di sana itu banyak perzinaan dan prostitusi," kata KH Khariri Shofa, di Balai Muslimin, Purwokerto, Kamis (28/12/2017).

Baca juga:

Khariri mengatakan semua pihak perlu mencari solusi terbaik yang bisa diterima semua pihak, termasuk pengelola, penghuni maupun orang-orang yang berkepentingan secara ekonomi dan mengandalkan pendapatan di Gang Sadar. Termasuk pekerja rumah tangga (PRT).

Dalam pertemuan ini, MUI Kabupaten Banyumas mengumpulkan berbagai kalangan masyarakat Banyumas, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, polisi, TNI, pemerintah dan tokoh agama.

Khariri mengatakan suara masyarakat Banyumas menuntut penutupan Gang Sadar semakin kencang. Sebab itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas sedang mempertimbangkan untuk melakukan langkah strategis agar solusinya bisa diterima oleh semua pihak.

Khariri Shofa menambahkan praktik prostitusi merupakan tindakan yang amat dilarang di dalam ajaran agama. Selain itu, ditinjau dari perangkat regulasi, prostitusi juga dilarang melalui Peraturan Daerah (Perda) Banyumas. Karena itu, kata Khariri, penutupan Gang Sadar merupakan salah satu opsi paling memungkinkan.

Namun begitu, kata Khariri, harus dipertimbangkan pula dampak positif dan negatif di kemudian hari. Ada kekhawatiran pascapenutupan Gang Sadar, prostitusi justru mewabah dan menjadi liar.

Khariri menambahkan Pemerintah Daerah juga perlu memikirkan masa depan orang-orang yang mengandalkan kehidupan di Gang Sadar. Dia yakin, jika para pekerja seks memiliki pilihan pekerjaan lain yang menjanjikan maka mereka pun akan sukarela meninggalkan pekerjaan sebagai pekerja seks.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.