Calon Tunggal Panglima, Ini Kekayaan Hadi

Kendaraan Hadi; Toyota Kijang 2004, Toyota Kijang Innova 2015, Honda CRV 2009, dan motor Honda 2002.

Selasa, 05 Des 2017 14:00 WIB

Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto didampingi istri berfoto bersama taruna. (Foto: TNI)

KBR, Bogor-  Presiden Joko Widodo mengajukan satu calon untuk menggantikan Gatot Nurmantyo sebagai  Panglima TNI kepada DPR. Calon tunggal itu ialah Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Hadi Tjahjanto.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dikutip dari laman acch.kpk.go.id Hadi baru satu kali melaporkan harta kekayaannya. Laporan yang disampaikan pada  2016 itu ketika dia  menduduki posisi sekretaris militer presiden.

Dalam laporan itu, total harta kekayaannya mencapai Rp 5.001.683.500 dan USD 60.000 yang terdiri dari harta bergerak dan tidak bergerak.

Harta tidak bergerak  terdiri dari tanah seluas 303 m2 di Kabupaten Malang yang diperoleh dari warisan. Selain itu tanah seluas 773 m2 dan bangunan seluas 38.5 m2 di Jakarta Selatan yang diperolehnya hasil sendiri di tahun 2012 lalu.

Sedangkan harta bergeraknya, Hadi memiliki tiga unit mobil yakni; Toyota Kijang tahun 2004, Toyota Kijang Innova tahun 2015, Honda CR-V tahun 2009, dan unit motor Honda tahun 2002. Total, harta bergerak yang dimiliki Hadi mencapai Rp 515.700.000

Marsekal  bintang empat itu juga diketahui memiliki harta bergerak lainnya berbentuk logam mulia yang diperoleh dari tahun 2010-2016, dengan total nilai Rp 391.875.000. Selain itu, Hadi juga memiliki aset berupa giro setara kas senilai Rp 3.500.000 dan USD 60.000.

Baca: Calon Panglima TNI Hadi Tjahjanto, dalam Tujuh Tahun Raih Empat Bintang  

Berbeda dengan Hadi, Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Gatot Nurmantyo pada saat baru menjabat sebagai Panglima TNI tahun 2015 lalu berjumlah Rp 13.704.369.535 dan USD 25.002.

Rincian kekayaan Gantot terdiri dari total harta tidak bergerak berjumlah Rp 6.615.759.832 dan total harta bergerak berjumlah Rp 7.088.609.703 dan USD 25.002. Jumlah itu bertambah hampir dua kali lipat dalam kurun waktu tiga tahun saat Gatot Nurmantyo melaporkan LHKPN sebelumnya pada tahun 2012 lalu.

Waktu itu, Gatot melaporkan harta kekayaannya saat menjadi Gubernur Akademi Militer TNI AD dengan total kekayaan sebanyak Rp 7.114.471.555 dan USD 8.200.

Baca: Calon Panglima TNI Hadi Tjahjanto, dalam Tujuh Tahun Raih Empat Bintang 


Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah mengirim surat ke DPR yang isinya usulan nama calon Panglima TNI pengganti Gatot Nurmantyo. Masa pensiun Gatot Nurmantyo akan tiba  Maret 2018. Sebagai gantinya, Presiden Jokowi mengusulkan nama Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto.

Surat usulan nama calon Panglima TNI telah disampaikan langsung Menteri Sekretaris Negara Pratikno ke DPR, untuk minta persetujuan DPR, Senin, 4 Desember 2017.

Di 'bursa' calon Panglima TNI, saat ini Hadi Tjahjanto 'mengalahkan' dua jenderal bintang empat lain, yaitu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono, serta Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi. Dibanding dua calon lain, Hadi Tjahjanto memiliki masa pensiun lebih panjang.


Editor: Rony Sitanggang


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi