Buruh Migran di Pusaran Teroris

Dari Hong Kong Ika merekrut empat orang untuk merencanakan aksi pengeboman. Ika menyisihkan gajinya dan mentransfer uang demi membeli perlengkapan bahan peledak dan senjata.

Kamis, 21 Des 2017 05:25 WIB

Ika Puspitasari, mantan buruh migran Hong Kong, divonis 4 tahun penjara dalam kasus terorisme.

Ika Puspitasari, mantan buruh migran Hong Kong, yang divonis 4 tahun penjara karena terlibat aksi terorisme. (Foto: Tim KB)

Pada Hari Buruh Migran Sedunia 18 Desember kita dikejutkan dengan catatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut hampir 50 buruh migran Indonesia terjerat terorisme dan terlibat dengan kelompok ISIS. Angka itu tak berbeda jauh dengan temuan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang menyebut ada 45 buruh berada dalam pusaran aksi-aksi teror. 

Dalam liputan kolaborasi KBR dengan CNN Indonesia dan Jaring.id, fakta itu terungkap. Kami menyambangi tempat tinggal para buruh migran. Keluarga melihat ada perubahan ganjil begitu terasa ketika pulang dari Hong Kong. Selain cara berpakaian yang berubah, yaitu memakai cadar, mereka juga tak malu mengungkapkan gagasan tentang Negara Islam. Tak hanya itu, di media sosial Facebook, mereka juga rajin memposting artikel-artikel tentang jihad dan perang di Suriah. 

Ada juga keluarga buruh migran Ika Puspitasari, asal Jawa Tengah. Ia dihukum empat tahun penjara karena terbukti mendanai beberapa aksi teror di Bandung, Jawa Barat dan Istana Negara. Semua bermula dari Hong Kong: Ika merekrut empat orang untuk merencanakan aksi pengeboman. Ika menyisihkan gajinya dan mentransfer uang demi membeli perlengkapan bahan peledak dan senjata. Untungnya belum sempat terlaksana, teman-teman Ika dicocok Densus 88. Ika juga digelandang polisi. 

Buruh migran lain, Lia, warga Jawa Timur, tak langsung pulang meski kontrak kerja di Hong Kong berakhir 27 Agustus 2016. Ia malah menyeberang ke Suriah lewat Turki. Sejak itu, jejaknya lenyap. 

Fenomena semacam ini tak hanya di Hong Kong. BNPT menyebut terjadi juga di Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia - meski jumlahnya sedikit. Melihat persoalan ini, pemerintah punya tugas berat melawan terorisme yang terlanjur menyasar buruh migran. Jangan lengah mengawasi media sosial dan medium komunikasi berbasis aplikasi seperti WhatsApp dan Telegram - di sana lah komunikasi terjalin. Pun konten-konten radikal. Kelompok ekstrem begitu lihai menyajikan sajian berbau ajakan berjihad, kita tak boleh kalah langkah.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kendalikan Harga Beras, Bulog: Operasi Pasar Harus Terus Ditambah

  • Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang Klaim Sudah Minta Impor Sejak Dua Bulan Lalu
  • Satgas Pangan Banyuwangi Akui Ada Kenaikan Harga Beras
  • Satu Juta Lebih Pengungsi Rohingya Tinggal di Bangladesh

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.