Ujian Nasional, Pemerintah Putuskan UN Dilanjutkan

"UN tetap dijalankan, kemudian ada beberapa penambahan, termasuk di dalamnya adalah diatur ujian sekolah di luar yang UN itu."

Senin, 19 Des 2016 19:38 WIB

Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wapres Jusuf Kalla (tengah) berdiskusi dengan Seskab Pramono Anung (kanan) saat memimpin Rapat Terbatas Kabinet membahas Ujian Nasional di Kantor Kepresidenan, J

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Pemerintah memastikan tetap akan menjalankan Ujian Nasional (UN) tahun depan. kata Menteri Sekertaris Kabinet, Pramono Anung, pelaksanaan UN dijalankan dengan berbagai penyempurnaan dan perbaikan.

Perubahannya  kata Pramono adalah penambahan nilai-nilai nasionalisme pada mata pelajaran yang tidak di UN-kan dan perlunya peningkatan kompetensi guru yang telah disertifikasi dari waktu ke waktu. Dengan kata lain menurut dia, Pemerintah menunda moratorium UN dan meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk mengkaji lebih dalam.

"Bahkan presiden betul-betul menginginkan agar siswa kita bukan hanya menjadi petarung pada tingkat lokal saja, tetapi juga bisa bersaing pada tingkat internasional. Maka untuk itu UN tetap dijalankan, kemudian ada beberapa penambahan, termasuk di dalamnya adalah diatur ujian sekolah di luar yang UN itu. Memasukkan unsur-unsur atau bagian-bagian. Hal-hal yang berkaitan dengan kisi-kisi sekolah secara nasional," ujarnya kepada wartawan usai mengikuti Ratas di Kantor Presiden, Istana Negara, Jakarta, Senin (19/12).

Kata dia, nanti perlu ada evaluasi yang dilakukan secara berkala  terhadap kinerja guru. Dengan begitu kata dia, peningkatan kualitas terhadap anak didik bisa dicapai.

Selain itu kata dia, Presiden meminta keputusan yang diambil terkait pelaksanaan UN, jangan sampai membuat peringkat pendidikan di Tanah Air malah menurun.

"Kenapa itu dilakukan? Karena memang bentuk ukurannya adalah kita ingin pendidikan kita bukan hanya sekolah-sekolah baik saja sekolah-sekolah bagus saja yang semakin bagus, tetapi juga bisa ada pemerataan. Sehingga dengan demikian, tadi juga diperlihatkan, ternyata bahwa kalo kemudian ini tidak dijalankan, UN ini tidak dijalankan, maka bisa menimbulkan kesenjangan baru, antara sekolah bagus dan tidak bagus. Terutama antara Jawa dan Luar Jawa," ucapnya.

Sebelumnya menurut data, peringkat dan capaian nilai Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia untuk 2015 meningkat enam peringkat dari peringkat 71 pada 2012 menjadi 64. Program Penilaian Pelajar Internasional atau PISA   diselenggarakan tiga-tahunan, untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun. Penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD). Tujuan dari studi PISA adalah untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia, dengan maksud untuk meningkatkan metode-metode pendidikan dan hasil-hasilnya. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.