Emblem klub sepakbola Chapecoense. (Foto: Twitter)

KBR - Kecelakaan tragis yang menimpa klub sepakbola asal Brazil, Chapecoense ACF mendapat respon luar biasa dari dunia, khususnya dunia olahraga. Ucapan duka cita mengalir tak henti-hentinya, dalam berbagai bentuk.

Sebanyak 19 pemain klub bersama dengan ofisial tim dan belasan penumpang lain termasuk wartawan tewas ketika pesawat yang mengangkut mereka jatuh hancur berkeping-keping dekat Kota Medellin di Kolombia, Selasa (29/11/2016). Sang pelatih, Luiz Carlos Saroli atau kerap dipanggil Caio Júnior juga masuk dalam daftar korban tewas.

Informasi dari petugas kontrol lalu lintas udara menyebut ada komunikasi dari pilot pesawat sebelum jatuh, bahwa pesawat kehabisan bahan bakar.

Dari 77 penumpang yang ada di pesawat itu, hanya enam orang selamat meski luka parah---tiga orang diantaranya pemain Chapecoense.

Para pemain itu sedianya hendak menjalani babak final melawan klub Atletico Nacional di ajang Copa Sudamericana. Namun pertandingan batal digelar karena musibah itu.

Stadion Atanasio Girardot, markas klub Atletico Nacional yang mestinya menjadi tempat pertandingan final leg pertama, dipenuhi suporter dari dua klub yang sama-sama berduka.

Banner digital besar bertuliskan "Para Juara Abadi" terpampang di stadion, sementara sekitar 100 ribu suporter di dalam dan luar stadion berkumpul sembari menyalakan lilin. Setiap kali nama korban dibacakan, mereka memberi sambutan tepuk tangan secara penuh emosional.

Wali Kota Medellin, Federico Gutierrez yang berada di stadion itu ikut melepas 71 ekor merpati putih mewakili para korban dalam tragedi itu. Puluhan merpati itu berputar-putar di atas stadion sebelum hilang di kegelapan malam.

Stasiun televisi Fox Sports Brazil, yang sedianya menyiarkan pertandingan final Sudamericana itu secara langsung, tidak menyiarkan apapun selama 90 menit. Hanya ada tulisan '90 menit mengheningkan cipta' di layar televisi.

Petisi

Klub Atletico Nacional telah meminta kepada Konfederasi Sepakbola Amerika Selatan (CONMEBOL) untuk menganugerahkan gelar juara Sudamericana 2016 kepada calon lawan mereka, Chapecoense, sebagai tanda penghormatan kepada korban.

"Kami menunggu keputusan dari CONMEBOL. Ofisial akan bicara, tapi kami menginginkan mereka yang mendeklarasikan tim ini (Chapecoense) sebagai juara Sudamericana 2016. Ini yang kami inginkan. Ini inisiatif kami, dan kami yakin dunia sepakbola juga menginginkan itu," begitu pernyataan resmi klub Kolombia, Ateltico Nacional.

Selain tiga pemain yang luka karena kecelakaan, klub Chapecoense kini hanya memiliki sembilan orang pemain lain yang tidak ikut berangkat, dan beberapa ofisial tim. Dalam kondisi seperti ini, jelas klub tidak mungkin menjalani kompetisi atau pertandingan secara normal. Beruntung kompetisi Serie A Brazil tinggal menyisikan satu pertandingan, dimana pertandingan terakhir Chapecoense versus Atletico Mineiro yang dijadwalkan digelar 5 Desember, akhirnya ditunda.

Sejumlah klub di Brazil telah menawarkan untuk meminjamkan para pemainnya ke Chapecoense secara gratis pada musim 2017 mendatang. Klub-klub yang bersedia meminjamkan pemainnya secara gratis antara lain Corinthians, Coritiba, Palmeiras, Portuguesa, Santos dan Sao Paolo.

Klub-klub juga mendesak Konfederasi Sepakbola Brazil (CFB) supaya tidak mendegradasi Chapecoense dari kasta tertinggi sepakbola Brazil, Campeonato Brasileiro Serie A atau populer dengan Brasileirão, selama tiga musim karena tragedi itu. Para klub meminta BFC agar memberi kesempatan kepada klub yang sedang berduka itu, untuk membenahi klub lebih dulu.

"Bersama-sama, kami, para presiden dari klub sepakbola Brazil menginginkan agar klub (Chapecoense) kembali berkompetisi di turnamen kasta tertinggi di sepakbola Brazil. Kami juga akan berbicara dengan klub-klub lain, untuk membuat proyek membantu meminjamkan para pemain mereka supaya (Chapecoene) bisa berkompetisi di musim 2017," begitu pernyataan bersama klub-klub elit di Brazil.

Tragedi pesawat yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Chapecoense itu mengikat solidaritas dan simpati dari penjuru dunia. Berbagai klub sepakbola di penjuru dunia mengadakan 'minute of silence', mengheningkan cipta sebagai ungkapan belasungkawa bagi para korban.

Pemain PSG Edinson Cavani mempersembahkan gol ke-100, yang ia buat ke gawang Angers untuk para pemain Chapecoense. Meski ia harus rela dikartu kuning karena melepas seragam untuk memperlihatkan logo klub Chapecoense di kaus dalamnya.

Bahkan, klub asal Paraguay, Libertad yang beberapa kali menjadi rival dalam pertandingan Sudamericana juga menawarkan bantuan pinjaman pemain kepada Chapecoense di musim mendatang.

Tawaran pinjaman pemain juga datang dari klub asal Portugal, Benfica.

Sumbangan

Sepanjang dua hari pasca tragedi kecelakaan pesawat, warga Brazil terus berdatangan ke markas klub Chapecoense di daerah terpencil di negara bagian Santa Catarina.

Mereka membanjir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada para korban tewas akibat bencana itu. Selain itu, mereka juga ingin menjadi anggota suporter klub. Keanggotaan suporter klub pun bertambah sekitar 13 ribu orang, dengan iuran keanggotaan antara 16 reais (sekitar Rp63 ribu) hingga 185 reais (sekitar Rp730 ribu).

"Itu menunjukkan bagaimana mereka ingin membantu klub. Klub ini seperti berada pada tempat yang tidak terbayangkan," kata Ivan Tozzo, pejabat sementara pimpinan klub. (BBC/ABC/Goal/Mirror) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!