Aksi teatrikal warga di Rembang. Tampak peserta aksi mengenakan topeng wajah Ahok dan Rizieq Shihab, berjualan bareng. (Foto: Musyafa/KBR)


KBR, Jakarta- Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin menceritakan proses Presiden Joko Widodo memutuskan untuk berjalan dari Istana Negara ke Monas demi melaksanakan Salat Jumat bersama ratusan ribu massa aksi 212. Lukman yang juga mendampingi Presiden mengatakan, keputusan tersebut diambil di detik-detik terakhir menjelang azan Salat Jumat.

"Setelah tentu mendengar banyak pertimbangan dari berbagai kalangan tapi pada akhirnya putusan diambil sendiri oleh Presiden. Dan putusan itu mendekati saat azan Salat Jumat tadi. Jadi memang tenggang waktunya sangat singkat sekali," kata Lukman di kompleks Istana, Jumat (2/12/2016).

Namun, tak disangka hujan lebat mengguyur sekitar Monas ketika rombongan Presiden Jokowi mulai berjalan kaki ke arah Monas. Melihat kondisi ini, menurut Lukman, Presiden sempat dua kali berhenti meminta pertimbangan apakah akan dilanjutkan. Presiden akhirnya melanjutkan berjalan ke Monas dan melaksanakan salat di dalam tenda.

"Jadi beberapa saat Bapak Presiden sempat terhenti lalu meminta pertimbangan sebagian ada yang menyarankan untuk diurungkan saja niat ke sana, karena hujan deras sekali, dan sebagian menyarankan terus saja, dan Bapak Presiden memutuskan terus, itu dua kali saya saksikan. Karena sampai di sana masih hujan lebat, jadi kemudian Bapak bersalat di tenda itu," tutur Lukman.

Menurut Lukman, Presiden merasa perlu hadir langsung di hadapan peserta aksi untuk menyampaikan terima kasih dan apresiasi.

"Jadi ini untuk doa bangsa dan negara sesuatu yang sangat mulia, karenanya Bapak Presiden perlu untuk langsung hadir untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi," ucap Lukman.

Ahok dan Riziq 'Jualan' Bareng


Sementara itu belasan warga dan seniman di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah hari Jumat (02/12) menggelar aksi teatrikal, menyikapi ancaman perpecahan bangsa. Mereka menampilkan sosok Ahok dan pemimpin ormas FPI Rizieq Shihab berjualan bareng di sebuah warung bernama Angkringan NKRI, untuk menunjukkan potret kerukunan.

Aksi Jumat Damai ini dipusatkan di kawasan Alun-alun Rembang, diikuti oleh pegiat LSM, pengacara dan para seniman. Mereka mengawali jalan kaki dari depan Masjid Agung Rembang, sambil membawa poster berisi ajakan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Seorang seniman yang ikut dalam kegiatan itu, Abdul Hamim mengatakan pihaknya ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa perbedaan jangan sampai memicu perpecahan.

 "Kekerasan itu bukan jalan menyelesaikan masalah. Tapi kita pilih dengan aksi seni dan pendekatan budaya, pendekatan yang lebih manusawi, bisa untuk menyelesaikan masalah. Kalau perbedaan itu biasa. Kita di sini bersama perupa lain juga berbeda aliran, beda wilayah, beda latar belakang maupun beda ilmu pengetahuan, nyatanya kita bisa bersatu," jelasnya.

Suparno, pemilik angkringan mengaku sengaja menampilkan sosok Ahok dan Rizieq untuk menarik perhatian warga. Menurutnya, kedua tokoh itu diharapkan mengedepankan persatuan, di atas kepentingan pribadi maupun golongan. "Dua tokoh ini bisa menjadi pemersatu bangsa, bukan memicu perpecahan bangsa. Kami harapkan aksi 212 di Jakarta menjadi suatu momen bahwa kebhinekaan itu akan menjadi persatuan Indonesia," ungkap Suparno.

Aksi diakhiri dengan minum kopi bareng. Setelah itu mereka mengibarkan bendera merah putih di samping gerobak angkringan, menjadi simbol pemersatu anak bangsa.

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!