Kejahatan Teroris Meningkat 107% Pada 2016

Kapolri sebut itu karena gejolak di Irak dan Suriah

Rabu, 28 Des 2016 21:08 WIB

Ilustrasi: aksi tolak teroris (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kasus teroris yang ditangani Kepolisian Negara Republik Indonesia tahun 2016 meningkat 107% dibanding 2015. Kapolri Tito Karnavian mengatakan, peningkatan ini terjadi karena gejolak yang terjadi di Irak dan Suriah.

"Tahun 2016 ini semua negara besar Rusia dan Barat menekan ISIS sehingga mereka tidak bisa bergerak. Daerah mereka makin kecil karena dibombardir. Akibatnya yang dilakukan mereka untuk mengalihkan perhatian jaringan yang di luar negerinya disuruh aktif bergerak," kata Tito di Rupatama Mabes Polri, Rabu (28/12/16).

"Makanya terjadinya serangan di Eropa, Prancis, Istambul Turki, Afrika, Pakistan, termasuk Indonesia," tambahnya.

Polri telah memproses kasus teroris sebanyak 170 kasus pada tahun 2016 dan 82 kasus pada tahun 2015. Tito mengatakan, pada 2015 lebih rendah karena Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) berstrategi memperkuat diri terlebih dahulu. Setelah itu ISIS melakukan ekspansi ke daerah lain secara perlahan.

"Aksi teror di Indonesia meningkat karena instruksi dari ISIS pusat," tambahnya.

Polri merinci, pada tahun 2016 kasus teroris yang telah jatuh vonis ebanyak 40 kasus, dikembalikan ke keluarga 6 kasus,  dalam proses persidangan 36 kasus, masih penyidikan 55 kasus dan meninggal dunia sebanyak 33 kasus. Tito mengatakan, penegakan hukum terhadap teroris ini juga mengakibatkan jatuh korban dari Kepolisian.

"Selama 2016 sebanyak 11 orang anggota Polri mengalami luka-luka dan seorang personel gugur," jelas Tito.

Gus Solah: Sayang Teroris Ditembak Mati

Sementara itu Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Solahuddin Wahid menyayangkan kepolisian menembak mati terduga teroris. Padahal kata Gus Solah jika ditangkap hidup mereka bisa membongkar jaringan terorisme yang lebih besar. Meski begitu, dia mengapresiasi langkah polisi yang berhasil membongkar jaringan terorisme di tanah air. Termasuk menggagalkan rencana teror bom menjelang natal dan tahun baru. Dia menegaskan terorisme bertentangan dengan akidah agama, dan menimbulkan kerusakan.

"Teror itu ya tidak dikaitkan dengan agama tertentu. Jadi kita tidak menyalahkan polisi, cuma sangat disayangkan kenapa ditembak mati. Kenapa tak ditembak kakinya,"

Polisi menangkap 12 orang terkait penemuan bom di Bekasi. Tujuh orang tersangka, lima orang lainnya terperiksa. Terduga teroris terkait dengan Jamaah Ansharut Khilafah Daulah Nusantara (JAKDN) yang dipimpin Bahrun Naim. Mereka berencana menyasar objek vital negara seperti Istana Kepresidenan.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Sidang Praperadilan Setya Novanto Dilanjut Hari Ini

  • Kemenkes Gelar Vaksinasi Massal di Tiga Provinsi
  • Rawan Bencana di Musim Hujan, BPBD Banyuwangi Kekurangan Logistik Makanan
  • Usai Kunjungi Korut, Pejabat PBB Sebut Situasi Gawat

Indonesia kini juga menjadi role model dalam hal pengembangan Buku Kesehatan Ibu dan Anak