Anak-anak di Kauman Desa Gunungreja Kecamatan Sidareja Cilacap bermain di jalan yang terendam banjir. Sedangkan warga menggunakan perahu untuk bepergian. (Foto: Muh Ridlo/KBR)


KBR, Cilacap – Warga di wilayah terdampak banjir rendaman di Kecamatan Sidareja Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah mengeluh aktivitas ekonomi lumpuh total.

Sebagian besar karena mereka membuka usaha di rumah yang kini terendam sudah lebih dari sepekan.

Warga Kauman Desa Gunungreja Kecamatan Sidareja, Eli Setyawan mengatakan hari Kamis kemarin merupakan hari ke delapan dia tidak membuka bengkel kendaraan, karena jalan raya di depan bengkel terendam. Tidak ada satu pun pelanggan yang datang untuk memperbaiki sepeda motor.

Baca: Tanggul Cikawung Jebol, Banjir di Cilacap Meluas   

Rumah Eli tidak sampai terendam karena dibuat berpondasi tinggi untuk mengantisipasi banjir langganan. Namun, tetap saja, karena jalan depan bengkel tak bisa dilintasi kendaraan, tidak ada satu pun konsumen yang memperbaiki kendaraan bermotor.

Eli mengaku selama delapan hari ini tidak mendapat penghasilan sama sekali pun dari usaha bengkelnya.

Banjir di kampung Eli sudah menjadi langganan tiap tahun. Namun, menurut dia, tahun ini adalah salah satu yang paling parah. Sejak Oktober lalu saja banjir telah merendam sebanyak tiga kali.

Eli menyebut banjir di Gunungreja terjadi karena air kiriman dari daerah pegunungan, seperti Desa Penyarang dan daerah Kecamatan Cipari. Seringkali, kampungnya tidak hujan, namun tiba-tiba air meluap dari Sungai Cibeureum dan merendam permukiman.

"Mulainya sejak hari Kamis mulai (terendamnya). Ya, nggak bisa aktivitas, nggak kerja. Ibaratnya, mati total, lumpuh. Seperti saya sendiri nggak bisa pegang pekerjaan. Pokoknya selama ada air, saya tidak bisa bekerja, nggak bisa cari uang. Seringnya itu banjir kiriman. Dari arah pegunungan. Sini nggak hujan pun kadang-kadang banjir,” jelas Eli Setyawan, Jumat (02/12/2016).

Baca: Ribuan Rumah di Cilacap Dikepung Banjir   

Salah satu pengungsi asal Dusun Cibenon Desa Sidareja di gedung Koramil Sidareja, Maftuhah juga mengaku sudah tidak membuka warung makan lebih dari sepekan.

Ia terpaksa mengungsi lantaran rumahnya terendam hingga kedalaman 120 centimeter. Hal ini menurut dia amat merugikan. Sebab, dari warung makannya itu dia mendapat penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Suami Maftuhah hanya bekerja sebagai tukang bangunan. Untungnya, suaminya tengah bekerja membangun rumah di daerah yang tidak terdampak banjir, yakni di Dusun Cikalong Desa Sidareja. Namun begitu, ia mengaku kesulitan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Sebab, dua anaknya masih sekolah di SLTP dan SLTA yang tiap hari membutuhkan ongkos dan sangu sekolah.

Dia berharap, selain bantuan berupa makanan dan obat-obatan, pemerintah juga mulai memikirkan bantuan tunai kepada warga yang aktivitas perekonomiannya mandek total.

Baca: Sepekan Mengungsi, Korban Banjir Cilacap Mulai Terserang Penyakit   

Editor: Agus Luqman  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!