Alasan Bima Sakti Tunda Rencana Gantung Sepatu

Pemain yang sempat bermain di Liga Swedia itu mengatakan keluarga masih ingin melihatnya bermain di musim depan di kompetisi resmi.

Selasa, 13 Des 2016 10:07 WIB

Ilustrasi. (Foto: ANTARA)


KBR, Balikpapan – Legenda tim sepakbola nasional Indonesia Bima Sakti menunda rencananya gantung sepatu tahun ini.

Pemain yang sempat bermain di Liga Swedia itu mengatakan keluarga masih ingin melihatnya bermain di musim depan di kompetisi resmi.

Pemain jebolan PSSI Primavera ini mengaku, masih sanggup bermain meski tahun depan usianya sudah tidak muda lagi, genap 42 tahun. Pemain kelahiran Kota Balikpapan ini pun menyatakan siap bersaing dengan pemain-pemain muda.

"Anak saya minta lanjut untuk jadi pemain. Saya pingin main di kompetisi yang regular ini (ISC), hanya turnamen. Saya pingin menutup sesuai dengan target saya sampai usia 42 tahun depan. Jadi itulah target saya buat tim Persiba," kata Bima Sakti.

Pemain terbaik musim 2000 ini pun berharap, masih diberi kesermpatan bermain untuk klub asal kota kelahirannya Persiba Balikpapan. Saat ini Bima memang terdaftar sebagai pemain merangkap Asisten Pelatih Persiba Balikpapan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.