Akvitis Protes Polisi Represif Hadapi Massa Aksi Papua 1 Desember

"(Aparat) mencoba memancing peserta aksi, namun teman-teman peserta aksi tidak terpancing emosinya."

Kamis, 01 Des 2016 17:36 WIB

Aktivis Front Rakyat Indonesia-West Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua ditangkap saat menggelar aksi 1 Desember di Jakarta, untuk memperingati deklarasi kemerdekaan Papua ke-55, Kamis (1/12/2016). (Fot


KBR, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jaya membubarkan ratusan orang dari Front Rakyat Indonesia (FRI)-West Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua yang sedang melakukan aksi peringatan deklarasi politik Papua Barat di Jakarta, Kamis (1/12/2016).

Salah satu pendamping hukum massa, Asep Komarudin mengatakan kepolisian membubarkan massa karena mereka mengibarkan bendera Bintang Kejora. Asep mengatakan, polisi mengintimidasi massa sebelum mengangkut dan membawa mereka ke Polda Metro.

"Selama proses orasi itu disebutkan ada beberapa kegiatan intimidasi, ancaman dari aparat. (Aparat) mencoba memancing peserta aksi, namun teman-teman peserta aksi tidak terpancing emosinya. Beberapa kali terlihat tarik-tarikan dan sebagainya. Polisi menembakan water canon," kata Asep kepada KBR, Kamis (1/12/2016).

Baca: Polisi Janji Segera Pulangkan Seratusan Mahasiswa Papua yang Ditangkap

Asep menyayangkan pembubarkan aksi yang dilakukan kepolisian. Ia mengatakan beberapa hari sebelum melakukan aksi mereka sudah mengirimkan surat pemberitahuan ke polisi.

Rencananya, hampir 200 orang akan bergerak ke Bundaran HI dan menuju Istana Negara. Namun, jalanan di kawasan Bundaran HI sudah diblokir. Akhirnya, aksi dilakukan di depan Graha Mandiri.

Selama orasi, kata Asep, aparat justru mencoba memancing peserta aksi dengan menarik-narik peserta. Namun peserta bergeming. Sampai kemudian kepolisian mengelilingi lingkaran massa dan terus mendesak mereka.

Buntutnya, 10 orang kemudian ditangkap. Hingga akhirnya seluruh massa lantas dibawa ke kantor Polda Metro Jaya.  Disana nama-nama mereka dicatat.

"Yang pertama itu kan empat orang, terus jadi 10. Yang pertama ditangkap itu ada beberapa teman yang mendapat kekerasan. Ada yang sampai berdarah, terus ada memar. Kemudian seluruh massa dibawa digiring oleh aparat," kata Asep.

Baca juga:


Terkait kekerasan oleh aparat itu, mereka belum memutuskan langkah selanjutnya. Namun Asep memastikan mereka tidak akan mendiamkan hal tersebut.

"Kita akan diskusikan setelah ini kumpul semua. Bagaimanapun tidak bisa ini kita diamkan, karena ini akan terus-menerus jadi preseden. Setiap aksi yang dilakukan rekan-rekan Papua, baik massa sedikit atau damai, tetap saja polisi bertindak represif," lanjut Asep.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

KPPU Belum Temukan Indikasi Monopoli PT IBU

  • Menristek Bakal Tindak Dosen HTI Sesuai Prosedur
  • PUPR Kejar Sejumlah Ruas Trans Sumatera Beroperasi 2018
  • Kelangkaan Garam, Kembali ditemukan Garam Tak Berlogo BPOM

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.