Pemerintah Siap Ekspor 150 Ribu Ton Beras ke Malaysia

"Hitungan 20 persen dari total kebutuhan impor mereka. 150 ribu ton kira-kira."

Kamis, 23 Nov 2017 22:47 WIB

Ekspor perdana beras ke Malaysia. (Foto: Ist)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah memproyeksikan produksi beras Indonesia tahun depan akan surplus, sehingga bisa diekspor ke Malaysia. Meski begitu, kata Enggar, ekspor beras itu masih menunggu jawaban negeri jiran yang selama ini mengimpor beras dari India dan Thailand.

"Pak Presiden meminta jatah kuota kepada perdana menteri Malaysia, kami minta untuk bisa diberi kuota 20 persen ekspor kita ke sana. 20 persen dari mereka tentu, ya hitungan produksi mereka. Hitungan 20 persen dari total kebutuhan impor mereka. 150 ribu ton kira-kira. Nanti disesuaikan dengan permintaan, tetapi kemungkinan premium," kata Enggar di kantornya, Kamis (23/11/2017).

Enggar mengatakan, Indonesia sudah memulai ekspor beras ke Malaysia sejak Oktober lalu sebanyak 25 ribu ton. Kata dia, dengan proyeksi produksi beras yang surplus tahun depan, Indonesia bisa meningkatkan jumlah ekspornya tahun depan. Adapun jenis berasnya, kata Enggar, pemerintah bisa mengikuti kebutuhan Malaysia, serta dengan harga yang bersaing dibanding negara eksportir beras lain.

Menurut Enggar, Malaysia masih menjadi pangsa pasar beras yang besar, karena kebutuhan impornya sekitar 30 persen dari total produksinya yang sebesar 3 juta ton, atau sekitar 1 juta ton. Sehingga, kata dia, target pemerintah mengekspor 150 hingga 200 ribu ton atau 20 persen kebutuhan impor beras Malaysia, masih cukup realistis.

Enggar mengatakan, pertemuan Presiden Jokowi dengan PM Najib di Kuching, Malaysia, kemarin juga untuk meningkatkan perdagangan antar-negara.  Presiden Joko Widodo meminta Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak agar menyiapkan kuota 20 persen impor berasnya atau sekitar 150 hingga 200 ribu ton, untuk Indonesia tahun depan.

Kata dia, beras bisa menjadi salah satu komoditas yang akan didorong pemerintah untuk diekspor ke Malaysia. Selain itu, kata dia, Malaysia dan Indonesia juga sepakat membuat penelitian bersama tentang peningkatan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di perbatasan, serta memerangi kampanye hitam soal kelapa sawit.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.