Krisis Tembagapura, Keluarga Bingung Mencari Jenazah Martinus Beanal

"TNI dan Polri harus tanggungjawab. Saya mau lihat tulang kakak saya. Kakak saya diperlakukan seperti binatang," kata Kristina.

Selasa, 14 Nov 2017 18:12 WIB

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Nasib dan keberadaan Martinus Beanal, pekerja PT Pangan Sari Utama (PSU) perusahaan rekanan PT Freeport Indonesia belum jelas sejak ia dinyatakan hilang pada Selasa, 7 November 2017.

Polisi sempat menyatakan Martinus Beanal meninggal, di tengah krisis keamanan di Tembagapura, dimana polisi menudung kelompok sipil bersenjata menyandera warga.

Namun dalam empat hari terakhir, keluarga belum mendapat kepastian soal keberadaan jenazah Martinus.

Adik kandung Martinus, Kristina Beanal mengatakan ia telah menemui dan menanyakan langsung kepada Wakil Kapolres Mimika Arnolis Korowa pada Senin, 13 November 2017. Namun Arnolis tak bisa memberi keterangan apapun.

"Dia bilang 'saya sudah sampaikan ke orang Kemeri untuk mereka kubur, mereka bakar, abunya harus dibawa pulang'. Tapi tidak begitu jelas, Bapak Wakapolres. Akhirnya kami pulang lagi," kata Kristina kepada KBR, Selasa (13/11/2017).

Keluarga juga meminta polisi menunjukkan lokasi jenazah atau kuburan Martinus. Tapi permintaan itu ditolak dengan alasan polisi butuh koordinasi. Tempat Kejadian Perkara (TKP) pun tidak bisa diakses karena kabarnya dijaga ketat militer dan polisi.

Baca juga:

Kristina mengatakan aparat keamanan tak menjanjikan apapun kepada keluarga Martinus. Kristina hanya diminta meninggalkan nomor kontak yang bisa dihubungi jika nanti ada kabar. Dari pertemuan itu, Kristina tidak mendapat informasi apapun soal kematian kakaknya.

"TNI dan Polri harus tanggungjawab. Saya mau lihat tulang kakak saya. Kakak saya diperlakukan seperti binatang," kata Kristina.

Martinus Beanal dinyatakan hilang sejak Selasa, 7 November 2017, dalam perjalanan dari Tembagapura menuju kampungnya di Opitawak. 

Polisi menuduh Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) menculiknya. Kristina mengatakan kakaknya sudah meminta izin aparat keamanan untuk melewati jalan besar. Namun permintaan itu ditolak.

"Kakak saya harus ketemu istri, jadi dia pikir 'ya sudah saya pakai jalan lain saja'. Dia sudah hapal jalan lain dari kota menuju  kampungnya," kata Kristina.

Tiga hari sejak diumumkan hilang, polisi lantas mengabarkan telah menemukan jenazah Martinus. Polisi mengklaim jenazah Martinus sudah dimakamkan keluarga. Namun informasi itu dibantah keluarga Martinus.

KBR juga menerima keterangan dari Lembaga Adat Suku Amungme (Lemasa) yang diterima KBR. Informasi itu menyebutkan ada seorang tokoh masyarakat Utukini yang menolak disebutkan namanya mencurigai Martinus dibunuh aparat keamanan. Sebab, TKP merupakan daerah kekuasaan TNI-Polri. 

Di hari Martinus diumumkan hilang, masyarakat sekitar tempat kejadian sudah mendengar berita kematian Martinus. Selain itu, Lesama juga meragukan jika Martinus dibunuh TPN-OPM. Sebab selama ini budaya yang berlaku, TPN-OPM akan mengaku jika telah membunuh seseorang.

Martinus merupakan warga Kampung Opitawak, Distrik Tembagapura. Semenjak kerja di area Kota Tembagapura, dia tinggal di Kampung Utikini agar lebih dekat dengan tempat kerja. 

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.