Erupsi Gunung Agung, Penutupan Bandara Ngurah Rai Dievaluasi Tiap Enam Jam

Penutupan Bandara Ngurah Rai berdampak pada 59 ribu penumpang dan calon penumpang. Sebagian penumpang memutuskan melanjutkan perjalanan menggunakan jalur darat.

Senin, 27 Nov 2017 11:48 WIB

Petugas maskapai memberikan penjelasan mengenai penutupan terminal internasional Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Senin (27/11/2017). (Foto: ANTARA/Fikri Yusuf)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Denpasar – Otoritas pengelola Bandar udara Internasional Ngurah Rai, Bali bakal mengevaluasi keputusan penutupan bandara setiap enam jam.

Bandara tersibuk kedua di Indonesia---setelah Bandara Soekarno Hatta---itu ditutup pascaerupsi magmatik Gunung Agung pada Minggu(26/11/2017) pukul 22.00 WITA. Letusan disertai api dengan asap kawah kelabu yang membumbung setinggi 3.000 meter di atas puncak, atau lebih dari 6.000 meter di atas permukaan air laut.

Gunung Agung yang sebelumnya statusnya sudah diturunkan ke level Siaga (Level III) kembali dinaikkan ke level Awas (Level IV) mulai 27 November 2017 pukul 06.00 WITA. Satu jam kemudian, aktivitas penerbangan Bandara Internasional Ngurah Rai ditutup selama 24 jam hingga Selasa 28 November 2017, pukul 07.00 WITA.

General Manager Bandara Internasional Ngurah Rai, Yusa Suprayogi mengatakan akan terus memantau dan mengevaluasi kandungan abu vulkanik di udara yang digunakan untuk lalu lintas penerbangan. 

"Kenapa kami mengambil enam jam sekali, karena perubahan cuaca sangat cepat sekali. Kemudian akan dievalusi kapan akan dibuka kembali. Kita lihat begitu debu dinyatakan tidak ada lagi, maka kita punya waktu tiga jam untuk revovery. Saya harus memastikan kalau clear di udara, harus clear di darat," kata Yusa Suprayogi di Denpasar, Senin (27/11/2017).

Penutupan Bandara Ngurah Rai berdampak pada 59 ribu penumpang dan calon penumpang. Sekitar 150 penumpang memutuskan melanjutkan perjalanan menggunakan bus dari Bandara Ngurah Rai menuju Terminal Mengwi maupun pelabuhan Padang Bai.

Saat ini sekitar 24 pesawat terparkir di apron utara dan selatan bandara Ngurah Rai, dengan ditutupi lapisan untuk badan pesawat dari abu vulkanik Gunung Agung.

Setiap hari Bandara Internasional Ngurah Rai melayani 445 penerbangan baik kedatangan maupun keberangkatan di terminal domestik maupun internasional. 

Baca juga:

Pada Minggu (26/11/2017), sebanyak 18 penerbangan internasional dibatalkan dari dan menuju Bandara Ngurah Rai, Denpasar BAli. Sementara itu otoritas pengelola Bandara Ngurah Rai terus berkoordinasi dengan Airnav Indonesia, BMKG Bandara.

"Kami juga akan memberikan hiburan dan akan memberikan minuman dan makanan kepada penumpang," kata Yusa Suprayogi. 

Pengelola bandara Ngurah Rai juga menyiapkan fasilitas keadaan darurat seperti kendaraan bus bagi wisatawan yang akan melanjutkan perjalanan darat dan makanan bagi penumpang yang terdampak. 

Sejumlah tempat parkir sudah mulai ditutup untuk umum, seperti di bagian barat yang akan dialokasikan untuk evakuasi. 


Tidak ada aktivitas lalu lintas di atas Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali, pascaerupsi Gunung Agung, Senin (27/11/2017). (Foto: FlightRadar24/FlightRadar24.com)

Kondisi terkini

Berdasarkan pantauan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga Senin, 27 November 2017 pukul 06.00 WITA, terlihat adanya kecenderungan peningkatan aktivitas Gunung Agung. 

Karena itu, PVMBG kembali menaikkan status Gunung Agung dari sebelumnya level III (Siaga) menjadi level IV (Awas) mulai 27 November 2017 pukul 06.00 WITA.

PVMBG merekomendasikan kepada masyarakat maupun wisatawan untuk tidak berada atau melakukan aktivitas di Zona Perkiraan Bahaya (ZPB), yaitu di dalam area kawah dan di seluruh area di radius delapan kilometer dari kawan Gunung Agung, ditambah perluasan sektoral ke arah utara-timur laut serta tenggara-selatan-barat daya sejauh 10 kilometer dari kawah Gunung Agung.

Daerah yang terdampak di antaranya Desa Ban, Dukuh, Baturinggit, Sukadana, Kubu, Tulamben, Datah, Nawakerti, Pidpid, Buanagiri, Bebandem, Jungutan, Duda Utara, Amerta Buana, Sebudi, Besakih dan Pempatan. 

PVMBG menyarankan agar masyarakat segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut serta alat pelindung mata untuk mengantisipasi potensi bahaya abu vulkanik.

Selain itu warga diminta waspada terhadap potensi ancaman bahaya lahar, apalagi saat ini adanya potensi curah hujan relatif tinggi saat ini.


Peta rawan bahaya Gunung Agung. (Foto: vsi.esdm.go.id)

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.