Eks Pendulang Emas di Freeport: Kami Sewa Lokasi Rp5 Juta per Bulan

Untuk bisa mendulang di kawasan Freeport, mereka harus menyewa lokasi pendulangan kepada warga setempat sebesar Rp5 juta per bulan. Mereka mendulang emas memanfaatkan sisa limbah dari PT Freeport.

Jumat, 24 Nov 2017 11:31 WIB

Eks pendulang emas di Tembagapura Ngarjani setelah dipulangkan ke Rembang, Jawa Tengah, Kamis (23/11/2017). (Foto: KBR/Musyafa)

KBR, Rembang - Ribuan orang warga diduga turut menjadi pendulang emas di kawasan tambang emas PT Freeport di Tembagapura, Papua. 

Salah seorang bekas pekerja PT Freeport, Ronny Naiaya mengatakan para pendulang itu merupakan warga pendatang. Mereka diyakini bisa masuk ke kawasan PT Freeport dibantu aparat keamanan dengan bayaran uang tertentu. 

Para pendatang itu kemudian masuk kawasan Freeport menggunakan mobil angkutan khusus karyawan PT Freeport.

"Kami pernah bicara dengan masyarakat pendulang. Tahun 2009, waktu itu seorang ibu cerita. Mereka mau naik ke atas itu, mereka membayar ke aparat, satu kepala Rp2 juta. Atau kalau tidak, nanti ditukar dengan emas yang didulang di atas nanti," kata Ronny kepada KBR, Kamis (23/11/2017).

Menurut penuturan Ronny, para pendulang itu mengambil tailing atau sisa-sisa material operasi Freeport di Kali Kabur, Tembagapura. Hasil pendulangan kemudian dijual ke para penadah di sekitar kawasan Tembagapura. 

Pada tahun lalu, kata Ronny, satu gram emas biasa dibeli seharga Rp100 ribu. Para penadah ada yang merupakan masyarakat asli Papua, ada juga yang pendatang.

Ronny juga menduga para penadah emas itu dibawa aparat keamanan dengan perjanjian bagi hasil yang sudah disepakati sebelumnya. 

"Mereka sudah sediakan tempat-tempat. Ada yang trasaksi beli di atas. Orang-orang ini diindikasi juga aparat yang bawa naik. Lalu pembagian hasilnya seperti apa," kata Ronny.

Para penadah kemudian membawa emas yang dibeli dari para pendulang itu ke ke Timika untuk dijual lagi ke toko-toko emas. Biasanya harga jual di tahapan ini, mencapai Rp250-300 ribu per gramnya.

Sejak Jumat pekan lalu, para pendulang emas itu telah dibersihkan aparat dari area Freeport. Mereka dibawa turun dengan alasan keamanan karena eskalasi konflik di Tembagapura yang menurut aparat keamanan memuncak. 


Baca juga:

Sewa lapak

Keterangan Ronny Naiaya itu tidak jauh beda dengan pengakuan warga pendatang yang mendulang di kawasan PT Freeport Indonesia di Tembagapura. Termasuk Ngarjani, warga Desa Pohlandak, Kecamatan Pancurk, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang sudah mendulang emas di kawasan Freeport sejak 2003.

Ngarjani mengatakan untuk bisa mendulang di kawasan Freeport, mereka harus menyewa lokasi pendulangan kepada warga setempat sebesar Rp5 juta per bulan. Mereka mendulang emas memanfaatkan sisa limbah dari PT Freeport. 

Hasilnya? Tidak menentu. Namun, minimal seorang pendulang bisa mendapatkan antara setengah hingga satu gram emas tiap hari.

"Yang kami dulang itu kan area perusahaan. Menurut kami, itu bukan tambang liar kok. Kami datang ke situ juga tidak bisa langsung ambil, Pak. Kami menyewa Rp5 juta per bulan sama warga. Tapi namanya limbah kan nggak bisa diprediksi. Maksimal 1 gram per hari. Harga sekarang sih sekitar Rp400 ribu, kadang bisa sampai Rp420 ribu. Jualnya ya di sana," kata Ngarjani.

Kepala Desa Pohlandak, Mundasir mengatakan kesempatan kerja di Kabupaten Rembang memang masih minim dan penghasilan pas–pasan. Kondisi itu memicu banyak warganya yang tergiur merantau ke Papua menjadi penambang emas tradisional. 

Pascakrisis di Tembagapura, yang melibatkan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM), Mundasir mengimbau warganya supaya tidak kembali lagi ke Papua, sebelum situasi benar–benar kondusif. 

"Di desa lapangan kerja sulit, UMKM juga minim. Kalaupun ada, upahnya Rp50–60 ribu. Untuk biaya kehidupan keluarga agak berat. Apalagi seperti Pak Ngarjani itu anaknya kuliah, butuh biaya besar," kata Mundasir.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Pemerintah Godok Opsi Format Pencantuman Agama Kepercayaan Di KTP

  • PLN Siap Jalani Putusan MK Soal Aturan Nikah Teman Sekantor
  • Polisi Banyuwangi Perketat Keamanan Objek Vital
  • Statistik Opta: Rooney Masih Garang Cetak Peluang Menjadi Gol

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi