Banjir Setinggi 4 Meter Terjang Aceh Singkil

Para petugas dari BPBD dikerahkan menggunakan perahu cepat atau perahu karet untuk mengevakuasi warga yang tinggal di dataran rendah.

Kamis, 09 Nov 2017 09:16 WIB

Suasana banjir di Aceh Singkil, Rabu (8/11/2017). (Foto: BPBD Aceh Singkil)

KBR, Aceh Singkil – Banjir bandang setinggi empat meter menerjang tujuh kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, Rabu, 8 November 2017.

Sebanyak 378 keluarga atau diperkirakan sekitar 700 jiwa dari 13 desa di Aceh Singkil terpaksa mengungsi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil, Sulaiman mengatakan banjir merupakan kiriman dari wilayah Pakpak Barat dan Deli, Sumatera Utara.

Banjir juga diperparah dengan cuaca ekstrim yang masih menyelimuti kawasan perbatasan antara Aceh dan Sumatera Utara. 

Untuk penanganan sementara, kata Sulaiman, BPBD Aceh Singkil membuka dua unit posko darurat bencana di kantor kecamatan. Dinas Sosial Aceh Singkil, melalui BPBD juga sudah mulai menyalurkan kebutuhan logistik bagi pengungsi.

"Banjir yang terjadi Bulu Sema ini adalah banjir kiriman dari Provinsi Sumatera Utara. Ketinggian air dari permukaan aspal sekitar 1,30 meter. Sedangkan di rumah masyarakat yang berada di daratan rendah sekitar empat meter. Sampai atapnya kena air. Kalau ada hujan dari Kutacane, Aceh Tenggara, habislah kami ini," kata Sulaiman kepada KBR, Rabu (8/11/2017).

Para petugas dari BPBD dikerahkan menggunakan perahu cepat atau perahu karet untuk mengevakuasi warga yang tinggal di dataran rendah. Hingga kini daerah-daerah dataran rendah diperkirakan masih terisolasi akibat banjir.

Sulaiman mengatakan belum ada laporan adanya korban jiwa maupun perhitungan kerugian materil akibat peristiwa banjir.

Pusat Data dan Informasi BDPD Aceh Singkil menyebutkan tujuh kecamatan yang terkena banjir antara lain Kecamatan Suro, Simpang Kanan, Gunung Meriah, Kota Baharu, Singkohor, Singkil, dan Kecamatan Singkil Utara.

Sedangkan 13 desa yang terkena banjir adalah Desa Bulu Sema, Silatong, Ujung Limus, Cibubukan, Serasah, Tugan, Selok Aceh, Tanah Merah, Sianjo-anjo Mariah, Tanjung Mas, Lae Riman, Lipat Kajang, dan Kain Golong. 

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kendalikan Harga Beras, Bulog: Operasi Pasar Harus Terus Ditambah

  • Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang Klaim Sudah Minta Impor Sejak Dua Bulan Lalu
  • Satgas Pangan Banyuwangi Akui Ada Kenaikan Harga Beras
  • Satu Juta Lebih Pengungsi Rohingya Tinggal di Bangladesh

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.