Angela Gui Berjuang Untuk Kebebasan Sang Ayah

Gui Minhai diculik dua tahun lalu dan dipenjara tanpa tuduhan atau dakwaan.

Selasa, 07 Nov 2017 09:46 WIB

Angela Gui. (Foto: Ric Wasserman)

Angela Gui. (Foto: Ric Wasserman)

Gui Minhai adalah pegawai penerbitan yang mengkhususkan diri pada buku-buku tentang kehidupan pribadi elit Tiongkok. Dia diculik dua tahun lalu dan dipenjara tanpa tuduhan atau dakwaan.

Sejak saat itu putrinya, Angela Gui, tanpa kenal lelah mengkampanyekan pembebasan ayahnya. Perkembangan terbaru dari kasus ini adalah Minhai sudah keluar dari penjara tapi belum bebas sepenuhnya.

Koresponden Asia Calling KBR di Swedia Ric Wasserman berbincang dengan putrinya yang kini jadi aktivis, Angela Gui.

Pada bulan Oktober 2015, Gui Minhai diculik dari tempat liburannya di Thailand. Pegawai penerbitan yang berbasis di Hong Kong ini dianggap dijadikan target karena menjual buku-buku yang kritis terhadap elite dan pemerintah Tiongkok.

Minhai sempat muncul di jaringan televisi pemerintah Tiongkok, CCTV, enam bulan setelah penculikannya. Sambil menangis Minhai mengaku terlibat dalam insiden tabrak lari yang berakhir dengan kematian.

Putrinya Angela Gui yakin ayahnya dipaksa mengatakan hal seperti itu. “Konstitusi Tiongkok mengklaim menghormati dan melestarikan hak asasi manusia, termasuk kebebasan berbicara,” katanya.

Angela Gui yang berusia 23 tahun telah berjuang agar ayahnya dibebaskan dari tahanan Tiongkok. Pada sebuah seminar baru-baru ini di Swedia, dia mengatakan telah mendorong tuntutan formal dan persidangan di pengadilan.

“Dengan menantang penahanan ayah saya yang hampir dua tahun secara formal, saya berharap akan mendapat beberapa jawaban. Atau perlakuan terhadap ayah akan disesuaikan dengan hukum yang berlaku. Terima kasih, (clapping),” tutur Angela.

Sejak ayahnya dipenjara, kehidupan Angela tiba-tiba berubah.

Seperti ayahnya, dia adalah warga Swedia. Saat peristiwa penculikan terjadi, dia sedang menyelesaikan kuliah master di bidang di sejarah di Cambridge, Inggris. Tapi kini kuliahnya terpaksa terhenti.

“Saya seperti didorong ke dalam situasi yang sangat aneh ini dan menjadi sorotan. Pada mulanya tidak disengaja. Maksud saya, pilihan untuk menjadi aktivis terjadi karena sedikitnya pilihan yang ada saat itu,” kisah Angela.



Setelah kejutan awal diculiknya sang ayah hilang, Angela mulai mencari jawaban. Dia segera menyadari penculikan ayahnya merupakan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Sejak Presiden Xi Jingping berkuasa pada 2012, tindakan keras terhadap media dan kebebasan berbicara makin terlihat dan semakin banyak kritikus Partai Komunis yang ditahan, diawasi dan dibungkam di Tiongkok. Media dan internet telah dibatasi dan definisi kejahatan terhadap negara pun makin meluas.

“Awalnya  saya mencoba untuk menghubungkan apa yang terjadi dengan ayah saya secara umum dan ini ternyata bukan hanya tentang ayah saya. Ini tentang Tiongkok yang memperluas perbatasannya dan membuat orang pada dasarnya berisiko,” ungkap Angela. 

Minhai menerbitkan buku-buku yang menyelidiki kehidupan pribadi elit Tiongkok dan itu dianggap sikap kritis terhadap pemerintah. Buku-buku itu dianggap ilegal di Tiongkok daratan tapi tidak di Hong Kong.

Masyarakat dan politik Hong Kong seharusnya bebas dari campur tangan Tiongkok. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Presiden Xi Jingping mengabaikan kesepakatan itu. Dia meningkatkan pembatasan dan mengambil tindakan keras terhadap kebebasan politik di Hong Kong.

Jurnalis, aktivis dan pengacara pun ikut ditahan.

Tinggal di negara Barat kata Angela membuat dia mampu mendorong pembebasan ayahnya dengan cara-cara yang tidak bisa dilakukan keluarga lain.

“Ada begitu banyak orang yang ditahan atau dipenjara di Tiongkok karena tulisan mereka yang membela HAM. Jadi saya sangat beruntung dan punya hak istimewa berada di tempat di mana saya bisa mempertanyakan penahanan ayah saya. Dan saya bisa menentangnya. Saya pikir ini tidak akan mengubah dunia tapi saya pikir penting ada seseorang yang melakukannya,” jelasnya.

Setelah tekanan terus-menerus, perwakilan Kementerian Luar Negeri Swedia di Shanghai bisa bertemu tiga kali dengan Gui Minhai. Terakhir pada Januari tahun ini. Tapi sikap Minhai dianggap tidak bersahabat.

“Setelah beberapa menit, dari apa yang diceritakan ke saya, ayah saya mulai bicara. Katanya: ‘Saya tidak ingin berbicara dengan Anda. Saya tidak ingin mendapat bantuan dari pihak berwenang Swedia karena saya tidak merasa sebagai orang Swedia’,” kisah Angela.

Angela menduga ayahnya berada di bawah tekanan besar agar tetap diam.

Pejabat Tiongkok melepaskan Minhai dari tahanan pada 17 Oktober lalu. Tapi ketika staf kedutaan Swedia tiba untuk bertemu dengan Minhai di hari pembebasannya, mereka diberitahu kalau dia sudah pergi.

Selama lebih dari seminggu tidak ada yang tahu di mana Minhai berada. Akhirnya Angela mendapat telepon dari ayahnya yang mengaku tinggal di rumah ibunya di Ningbo, Tiongkok.

Tapi Angela mengatakan kepada radio BBC bahwa dia yakin di sana, ayahnya jadi tahanan rumah. Angela bersumpah akan terus berjuang sampai ayahnya kembali merasakan kebebasan yang sebenarnya. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi