Ilustrasi (Foto: www.jateng.polri.go.id)

KBR, Jakarta- Mabes Polri menyebut belum menemukan benang merah atau keterkaitan atas serangkaian teror di sejumlah wilayah di Indonesia. Teror-teror berupa bom gereja Samarinda, pelemparan bom diduga molotov di Vihara Pontianak serta ancaman bom di gereja Malang.

Juru bicara Mabes Polri Agus Rianto mengatakan pelaku atas teror di Vihara di Pontianak dan Gereja di Malang belum teridentifikasi dan sedang dilakukan upaya penelusuran kasusnya.

"Kita masih belum bisa mengaitkan antara satu dengan yang lain tapi pastinya ada maksud-maksud mereka untuk menyebarkan berita-berita supaya masyarakat khawatir atau takut. Untuk itu kita menyampaikan kepada masyarakat tidak perlu khawatir tapi tetap kita harus selalu waspada karena kita tidak tahu lingkungan kita. Karena bagaimana pun kemungkinan mereka calon pelaku kejahatan itu akan berupaya melaksanakan aksinya nunggu kelengahan kita," ujar Agus kepada KBR (14/11/2016)

Agus menambahkan hingga saat ini belum diketahui siapa yang jadi pihak penyebar teror tersebut. Meski begitu, kata dia, Kapolri sudah perintahkan seluruh jajaran untuk meningkatkan intensitas kegiatan patroli pengawasan, serta penyuluhan bintara pembinanaan dan keamanan ketertiban masyarakat (babinkamtibmas).

"Pak Kapolri sudah perintahkan seluruh jajaran meningkatkan patroli pengawasannya kemudian meningkatkan sinergitas dengan stakeholder terkait seperti TNI, pemda, tokoh agama, tokoh masyarakat, kemudian meningkatkan aktivitas babinkamtibmas terutama di ujung tombak kita kenal tiga pilar kapolsek, camat danramil dengan jajaran ujung tombaknya itu meningkatkan sinergitas sehingga mudah-mudahan kita bisa tingkatkan upaya cegah upaya tangkal agar ini tak terjadi lagi sementara kita berusaha ungkap kejadiannya," tutupnya.

Baca juga:

Editor: Dimas Rizky 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!