Teror Bom Gereja Oikumene Samarinda, 5 Orang jadi Tersangka

"Di antara yang diamankan itu kan jumlahnya kemarin 21 orang,"

Kamis, 17 Nov 2016 13:41 WIB

Gereja Oikumene Samarinda pasca serangan teror bom. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Kepolisian Samarinda telah menetapkan lima orang tersangka kasus teror bom  di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Lo Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Juru bicara Polri, Boy Rafli Amar mengatakan, sebelumnya polisi telah memeriksa 21 orang yang diduga terkait peledakan tersebut.

"Hari ini yang di Samarinda itu tersangka informasinya sudah menjadi lima yang positif jadi tersangka termasuk Juhanda. Di antara yang diamankan itu kan jumlahnya kemarin 21 orang," kata Boy di Mabes Polri, Kamis (17/11/16).

Namun Boy belum bisa menjelaskan siapa dan bagaimana peran empat orang tersangka lainnya. Polisi sebelumnya menetapkan pelaku pelemparan bom molotov Juhanda alias Jo sebagai tersangka. Juhanda merupakan bekas narapidana kasus teror bom buku  di Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur.

"Motif mereka ingin buat kacau, nanti peran mereka masing-masing akan dijelaskan kemudian," jelas Boy.

Serangan teror  bom molotov di Gereja Oikumene terjadi sekitar pukul 10.10 WITA pagi, Minggu (13/11/16) lalu. Sebagian jemaat masih dalam gereja melaksanakan ibadah, sedangkan sejumlah di antaranya berada di area parkiran kendaraan.

Pelaku datang mengenakan kaus dan celana hitam melemparkan bom molotov. Bom ini langsung meledak serta melukai empat orang yang masih anak-anak. Seorang di antaranya, Intan Olivia (2,5 tahun), Senin pagi (14/11/16), menghembuskan nafas terakhir lantaran parahnya luka yang diderita.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.