Seorang demonstran membawa poster bergambar rekayasa foto Presiden Korsel Park Geun-hye mengenakan baju tahanan, dalam demonstrasi menuntut Presiden Park mundur, Jumat (18/11/2016). (Foto: ANTARA/Reuters)

KBR - Penyidik Kejaksaan Korea Selatan kembali menggeledah kantor pusat perusahaan elektronik Samsung Group, terkait skandal yang membelit Presiden Korea Selatan Park Geun-hye. Penggeledahan dilakukan Rabu (23/11/2016).

Teman dekat Park Geun-hye, yaitu Choi Soon-sil diduga terlibat menjual pengaruh kedekatannya dengan Presiden Park untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga.

Penyidik Kejaksaan juga menggeledah kantor lembaga pengelola dana pensiun terbesar di Korsel, yaitu National Pension Service (NPS). NPS diduga menyetujui proses merger antara Samsung C&T dan Cheil Industries tahun lalu senilai 8 juta dolar AS (Rp107 triliun).

Pihak Samsung dan lembaga pensiun NPS mengkonfirmasi penggeledahan itu, namun menolak menjelaskan lebih rinci. Begitu juga pihak Kejaksaan.

Baca: Presiden Korsel Dibelit Skandal, Perdana Menteri yang Dicopot   

Saat ini Presiden Park dan Choi sedang dalam penyelidikan terkait perilaku tidak layak guna mendapat bantuan dari para konglomerat, termasuk Samsung Grup. Samsung merupakan perusahaan yang dikelola keluarga konglomerat terbesar di Korea Selatan.

Dana yang dikumpulkan dari para konglomerat itu diarahkan ke yayasan-yayasan yang bertugas membantu Presiden Park mempromosikan budaya dan komunitas-komunitas olahraga.

Sebelumnya, jaksa juga pernah menggeledah kantor Samsung terkait skandal tersebut, pada awal November lalu.  Kantor berita Korea Selatan, Yonhap menyebutkan jaksa menyelidiki dugaan perusahaan Samsung terlibat bantuan keuangan secara tidak sah kepada anak perempuan Choi Soon-sil. (Wall Street Journal/Reuters)

Baca: Skandal Politik Korsel, Jaksa Geledah Kantor Pusat Samsung Electronics    
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!