Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi petani Majalengka yang menolak pengukuran lahan BIJB Kertapati, Kamis (18/11). (Sumber: Twitter Iwan KPA)


KBR, Jakarta- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan warga yang menolak  pembebasan lahan untuk Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) bukan pemilik lahan. Aher menuding ada kelompok-kelompok dari luar yang menggerakkan massa.

"Pembebasan lahan di kawasan itu sudah empat tahun gagal, karena dihadang terus oleh masyarakat. Kita identifikasi, yang menghalangi itu siapa sih?  Ternyata ada oknum-oknum yang bukan orang situ, untuk diketahui ya, kemarin yang demo, yang menghadang kita itu, bukan satu pun nggak ada pemilik lahan. Pemilik lahan sudah selesai dengan kita, tapi ada kelompok yang menghalang-halangi tentu demi untuk proyek negara," kata Aher di kompleks Istana, Jumat (18/11/2016).

Ahmad Heryawan mengklaim tidak ada tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat dalam upaya pembebasan lahan. Aher justru menuding warga yang represif dengan menghalang-halangi setiap pejabat pemerintah yang datang.

"Tidak ada represi, datang baik-baik udah berkali-kali. Justru yang represi dari mereka, datang baik-baik dari pemprov dari BPM, dihadang, siapa yang represi coba?" ujar dia.

Baca: Polisi Tahan Petani

Aher mengatakan pemerintah terpaksa meminta bantuan aparat lantaran situasi yang tidak aman.

"Karena tidak aman suasananya, nanti kalau petugas pemprov, petugas pemda, BPN, datang ke sana nggak diamankan, mereka bisa bahaya kan. Makanya harus diamankan, karena ada tanda-tanda yang membahayakan," tutur Aher.

Kata Aher, pembebasan lahan harus segera dilaksanakan untuk mengejar target penyelesaian bandara tahun depan.

"Kemarin ya harus kita lakukan, apa sebabnya? Sebab tahun depan bandara akan diselesaikan baik itu runaway-nya maupun terminalnya diselesaikan," ucap politisi Partai Keadilan Sejahtera ini.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!