Polda Metro: Tak Ada Instruksi Soal Film Jihad Selfie dan Jakarta Unfair

Polda Metro akan mencari tahu orang yang mengaku polisi yang membuat takut panitia acara Documentary Days 2016.

Minggu, 27 Nov 2016 21:00 WIB

Poster film dokumenter

KBR, Jakarta- Polda Metro Jaya menyatakan tidak ada pelarangan film Jihad Selfie dan Jakarta Unfair untuk diputar di Jakarta. Karena itu, juru bicara Polda Metro Jaya, Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pihaknya akan mencari tahu orang yang mengaku polisi yang membuat takut panitia acara Documentary Days 2016.

Menurutnya, pihaknya akan memproses masalah ini sesuai hukum yang berlaku.

"Nanti saya cek, tadi saya tanyakan ke reserse belum ada jawaban. (Tapi dari Polda Metro memang ada instruksi terkait 2 film itu?) Belum ada, tidak ada instruksi soal film itu," jelas Raden Prabowo saat dihubungi KBR.

Sebelumnya, film Jakarta Unfair terpaksa dibatalkan setelah panitia ditolak memasang baliho di pintu masuk TIM. Tak hanya itu, panitia kemudian didatangi dua orang yang mengaku dari kepolisian dan menanyakan seputar film. Atas pertimbangan tersebut panitia kemudian membatalkan pemutaran film tersebut karena takut.

Menanggapi hal itu, Direktur Watchdoc, Andi Panca Kurniawan mengkritik perlakuan aparat yang membuat takut panitia sehingga membatalkan pemutaran film Jihadis Selfie dan Jakarta Unfair. Menurutnya, polisi semestinya dapat melihat isi film terlebih dahulu sebelum membuat takut panitia.

"Itu bukan masalahnya. Masalahnya berbahaya rezim ini kalau dibiarkan begini terus. Pemutaran film yang dilarang, pemberangusan buku, ini jadi kental banget yang sekarang terjadi. Ini yang kami masalahkan," ujarnya kepada KBR, Minggu (27/11/2016).

"Kalau dari clue nya, situasi model begini menjelang 2 Desember, semua sensitif. Tapi ya dilihat dulu apakah isi filmnya itu. Ini senyaman mereka seperti itu. Tapi substansinya ngga pernah tahu, lah wong filmnya g ada apa,"ujarnya lagi.

Andi menilai upaya aparat keamanan yang mengarah pada upaya pelarangan film ini bertentangan dengan semangat reformasi.

Sementara itu, Sutradara Film Jakarta Unfair Sindy Anastasia memberikan batas waktu hingga dua pekan ke depan kepada panitia penyelenggara Dokumenter Day. Hal itu terkait kepastian penanyangan kembali film Jakarta Unfair setelah dibatalkan pemutarannya di acara tersebut.

"Belum ada kabar dari panitianya kemarin. Rencananya setelah ada putusan ngga ditayangin. Kemarin juga ada negosiasi ada beberapa kesepakatan juga. Akhirnya mereka mau memutarkan lagi, tapi sampai saat ini belum ada kabar. kabarnya masih nyari tempat. Maksimal dua minggu. Satu sampai dua minggu dari acara Dokumenter Day kemarin,"ujarnya kepada KBR, Minggu (27/11/2016)

Sindy menjelaskan film Jakarta Unfair merupakan film buatan mahasiswa UI yang didampingi Watch Dog. Film itu bercerita tentang kehidupan pascapenggusuran yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta kepada warga di beberapa wilayah. Di antaranya di Rusun Kapuk Muara dan Marunda. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau