PGI Kaltim Minta Polri Beri Jaminan Rasa Aman jelang Natal

Selama ini tidak pernah ada ancaman dan teror terhadap umat Kristiani di Samarinda atau di wilayah Kalimantan Timur.

Senin, 14 Nov 2016 11:25 WIB

Ilustrasi ibadah di gereja. Foto: Sasmito/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Wilayah Kalimantan Timur meminta umat Kristiani tenang namun tetap waspada, pasca teror yang terjadi di Gereja Oikumene HKBP, Samarinda, Kalimantan Timur.


Ketua PGI Kalimantan Timur, Yefta Bartho mengatakan, telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian, khususnya di Polres Samarinda untuk memberi rasa aman kepada umat Kristiani, terutama saat ini jelang menyambut Hari Raya Natal 2016.

"Untuk sementara, kita tenang dulu, tapi tetap waspada. Untuk pengamanan, kita tidak bisa mengandalkan (pihak kepolisian), jadi mengandalkan pengamanan dalam dulu. Akan perketat (pengamanan) dalam dulu. Tapi kita juga tetap berharap aparat memberi kita rasa aman. Kasihan, orang mau beribadah di gereja dalam rangka pembentukan moral supaya bagus, kok malah (dibom) seperti itu. Ini menyakitkan," kata Yefta Bartho kepada KBR, Senin (14/11/2016).

Teror bom pada Minggu kemarin menyebabkan satu bocah berusia 2,5 tahun tewas. Pelaku teror berinisial J, penjahat kambuhan terpidana teror bom buku di Jakarta Timur dan Puspitek Serpong pada 2011.

Ketua PGI Kalimantan Timur Pendeta Yefta Bartho juga menyayangkan aksi teror yang menyebabkan jatuhnya korban anak-anak.

"Ada beberapa anak kecil jadi korban, yang nggak berdosa. Nggak tahu apa-apa. Sangat disayangkan ada teror seperti ini. Ajaran agama apapun nggak ada yang seperti itu," kata Yefta Bartho.

Ia heran dengan pelaku teror yang katanya pernah terlibat aksi serupa sebelumnya, ternyata sudah keluar dari penjara.

"Kalau peristiwa teror sebelumnya tahun 2011, lalu 2014 sudah keluar, ini kan terlalu cepat. Akhirnya, dia jadi begini. Bikin ulah lagi. Sangat disayangkan, hukumannya tidak sesuai. Tidak membuat jera, justru dia malah merangkai bom lagi," kata Yefta Bartho.

Yefta Bartho mengatakan selama ini tidak pernah ada ancaman dan teror terhadap umat Kristiani di Samarinda atau di wilayah Kalimantan Timur.

"Ini kali pertama. Selama ini belum pernah ada ancaman-ancaman," kata Yefta.

Baca juga: Pengamat: Pengawasan Pemerintah Terhadap Teroris Lemah


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.