Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Muhammad Ridlo/KBR


KBR, Cilacap– Peternak di Cilacap, Jawa Tengah meminta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memfasilitasi pembelian bakalan sapi berkualitas unggul dari Australia yang diturunkan di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap.


Hal ini disampaikan sejumlah peternak Cilacap saat berdialog dengan Ganjar Pranowo dalam acara ngopi bareng di Wanareja kawasan Cilacap barat, Sabtu (13/11/2016).

Ketua Peternak Rajakaya Sapi Kerbau Tradisional Hanum Kabupaten Cilacap, Ceceng Rusmana mengatakan, selama ini Cilacap hanya dilintasi sapi impor tanpa memiliki kesempatan memelihara. Kata dia, sapi impor langsung dikirim importir ke pusat penggemukan (feed loter) Garut, Jawa Barat.

Padahal, menurut Ceceng, peternak di Kabupaten Cilacap memiliki kemampuan beternak yang mumpuni. Sebab, sebagian besar sudah mengikuti pelatihan ternak sapi, baik pembesaran, penggemukan maupun pengembangbiakan(breeding)

Dia juga meminta supaya Gubernur Ganjar di masa mendatang menolak daging sapi beku atau kerbau beku masuk ke Jawa Tengah. Sebab, hal itu menyebabkan harga sapi menurun drastis.

“Kami meminta kebijakan, karena ada sapi impor, nanti peternak kami tidak dipersulit saat akan membeli sapi impor langsung dari tauke (importir) di pelabuhan. Konon sapi impor di pelabuhan kan murah. Nanti akan kami besarkan dan gemukkan di peternakan, setelah gede kita jual. Jadi kami, minta bakalan yang murah. Kalau mahal, nggak usah impor, beli saja dari kami. Karena kami juga punya bakalan. Berarti karena impor, pasti lebih murah dan akan kami besarkan,” kata Ceceng Rusmana.

Menanggapi itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berjanji akan mempelajari regulasi yang mengatur impor dan aturan pembelian sapi impor. Dia mengaku akan berkoordinasi dengan Dinas Peternakan di Provinsi dan Kementerian Pertanian untuk mempelajari, apakah ada kesempatan bagi pertenakan rakyat untuk memelihara sapi impor.

Menurutnya, pemeliharaan ternak oleh rakyat dengan jumlah dua hingga tiga ekor ternak amat menunjang rencana swasembada daging. Sebab, harga ternak di petani relatif bebas dari intervensi. Hal ini bisa menjamin stok daging secara nasional.

Ganjar menambahkan, saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah melakukan kajian untuk mengembangkan desa ternak sekaligus wisata. Menurut dia, hal ini bisa menjadi kesempatan agar peternakan rakyat memperoleh jaminan pemberdayaan oleh pemerintah.

Baca:


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!