Ilustrasi: Aksi memperingatai Deklarasi Negara Papua Barat 1 Desember 1961 di depan Grahadi Surabaya, Jatim, Senin (2/12/2013). (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menuding aparat TNI/Polri mengintimidasi  warga Papua menjelang perayaan 1 Desember di Papua. Ketua Umum KNPB Victor Yeimo mengatakan, hal itu terbukti dari pemaksaan bagi pelajar dan mahasiswa di beberapa wilayah seperti Merauke untuk mengikuti arahan dari aparat keamanan di lapangan terbuka dengan  memakai ikat kepala berwarna merah putih.

Selain itu kata dia, di wilayah Jayapura,  sudah ada bentrok antara warga. Menurut dia, kondisi ini sengaja dibuat oleh aparat keamanan untuk menjadi pembenaran agar perayaan 1 Desember dilarang.

"Ini sudah ramai ini konvoi besar-besaran di Merauke, di Timika, di Jayapura, ada semacam provokasi dan hasutan terhadap masyarakat. Bahkan saya dengar tadi pagi di Merauke itu ada pemaksaan terhadap mahasiswa yang hendak kuliah, terus siswa siswi disuruh pakai ikat kepala bendera merah putih lalu diarahkan ke lapangan terbuka dan mereka dikondisikan untuk mendengarkan orasi-orasi TNI, Polri dan lain-lain untuk menjaga kesatuan Indonesia," ujarnya kepada KBR saat dihubungi, Rabu (30/11).

Menurut dia, kekhawatiran aparat keamanan terhadap perayaan 1 Desember sangat berlebihan. Padahal menurut dia, perayaan yang rencananya digelar dengan doa bersama dan beribadah oleh warga Papua tersebut sudah didukung penuh oleh Pemerintah Daerah dengan meliburkan hari tersebut. Perayaan ini kata dia dilakukan sebagai pengingat soal betapa pentingnya sejarah bagi Papua dan Indonesia.

"Sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan karena 1 Desember bukan momok yang menakutkan karena itu hari yang bersejarah bagi bangsa Papua dan Indonesia pun tahu sebenarnya bahwa tidak harus ada yang ditutupi dan sejarah harus diperingati oleh siapapun, termasuk orang Papua dari generasi ke generasi. Kekhawatiran untuk apa? Mengibarkan bendera itu nantinya tidak lantas menjadikan Papua langsung merdeka, itu tidak," ujarnya.

Dia memastikan, meski ada indikasi tindakan represif dari aparat kemanan, tidak akan menyurutkan langkah masyarakat Papua di seluruh dunia untuk merayakan hari paling bersejarah tersebut. Kata dia, perayaan ini bakal dilakukan tidak hanya di Papua.

"Kami masyarakat Papua sudah tahu dan itu hal yang biasa bagi kami. Bahkan kami sudah tahu justru setiap tanggal 1 itu mereka jadikan proyek agar dana keamanan dari pusat turun, makanya mereka membesar-besarkan masalahan ini. Yang pasti besok digelar serentak, ada di Makassar, Jogja, Jakarta dan Maluku selain di Papua itu sendiri," tambahnya.

Sementara itu  Kepolisian  Papua memastikan tidak acara perayaan apapun di seluruh Papua besok 1 Desember 2016.  Juru Bicara Kepolisian   Papua, Ahmad Musthofa Kamal, meminta masyarakat   beraktifitas  seperti biasa. Kata dia, hingga saat ini tidak ada  pemberitahuan untuk menggelar suatu acara dengan melibatkan banyak orang di Papua.

"Masa itu dirayakan, kita ini kan NKRI bang, makanya hal yang tidak besar jangan dibesar-besarkan. Maksudnya begini, jangan karena dulu, dulu dan dulu jangan terus diartikan nantinya bakal terus terjadi. Jadi intinya situasi Kamtibmas di Papua tidak ada apa-apa kok. (Tidak ada pengamanan khusus berarti pak?) iya," ujarnya kepada KBR.

Dia juga membantah soal pengerahan pasukan besar-besaran di Jayapura  untuk mengantisipasi perayaan yang disebut-sebut sebagai hari Ulang Tahun Organisasi Papua Merdeka tersebut. Kata dia, penambahan pasukan dilakukan karena sebentar lagi memasuki pekan libur Natal dan Tahun Baru. Dia menambahkan, di Papua juga tengah menjalani serangkaian kegiatan Pilkada Serentak sebagaimana yang dilakukan   daerah lain.

"Kita tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan kepolisian berkaitan dengan peningkatan untuk menjelang Natal dan Tahun Baru. Kita juga baru selesai  melakukan operasi zebra untuk menekankan tertib berlalu lintas. Terus kita juga persiapan untuk melakukan Operasi Lilin serta beberapa daerah di Papua kan tengah melakukan proses Pilkada," ujarnya.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!