Aksi massa demo Ahok, (4/11) (Foto: KBR)

KBR, Jakarta- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyebut aksi demonstrasi 4 November lalu, telah menggangu stabilitas ekonomi di DKI Jakarta. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan, berdasar kajian Bank Indonesia, setidaknya kerugian yang dialami pasca aksi demonstrasi tersebut mencapai  Rp 2,9 triliun.

"Rp 2,9 triliun asumsi dampak dari demo kemarin (4/11- red). Dengan aktivitas konsumsi berkurang 60% dan aktivitas lainnya berkurang 30%," ungkap Shinta dalam Forum Diskusi publik di Jakarta, Rabu (16/11/2016).

Ia juga menambahkan, aksi demo juga berdampak pada sepinya pusat-pusat perbelanjaan yang mengakibatkan kerugian mencapai Rp 500 miliar. Dengan asumsi perhitungan jumlah toko yang tutup di beberapa pusat perdagangan tersebut mencapai 20.000 toko, dengan omzet per hari rata-rata Rp 25 juta/toko.

"Konkritnya kita bisa lihat investor asing pasti akan melihat kemanannya terlebih dahulu. Jika aksi demo menerus terjadi, maka akan menjadi masalah," tambahnya lagi.

Data lain dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta menunjukkan, terjadi penurunan pengunjung beberapa pusat perbelanjaan Ibu Kota saat aksi demo 4 November 2016 terjadi. Karena itu Stevanus Ridwan, Ketua Umum APPBI mengusulkan, perlu adanya komunikasi dan koordinasi yang baik antara pelaku usaha, aparat keamanan, dan pihak pemerintahan untuk mencegah kerugian yang dialami pasca aksi 4 November.

"Kejadian kemarin membuat kita sadar bahwa harus ada komunikasi yang baik dan benar. Perlu dibuat group WA yang beranggotakan pengusaha-pengusaha mal yang dapat menginformasikan kejadian-kejadian seperti penjarahan secara langsung, sehingga aparat keamanan dan pengusaha dapat bertindak secara cepat," tegasnya.

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!