Selain mendapatkan gaji wah sebagai pemain sepakbola, Cristiano Ronaldo juga mendapat pemasukan besar sebagai bintang iklan dari perusahaan sponsor. (Foto: Andreadeia2001/Flickr/Creative Commons)

KBR - Dunia sepakbola ternyata tidak semegah apa yang ditampilkan para pemain bintang dan kaya raya, seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi dan lain-lain. Bergaji tinggi, memiliki mansion, mobil mewah dan lain-lain.

Para pemain sepakbola di penjuru dunia justru lebih banyak menghadapi masalah gaji rendah, pembayaran gaji terlambat, intimidasi, ejekan dan lain-lain.

Itu tergambar dari survei yang dilakukan organisasi pemain sepakbola internasional FIFPro terhadap 14 ribu pesepakbola dari 54 negara.

FIFPro meyakini survei ini merupakan gambaran terluas yang pernah dilakukan di dunia olahraga profesional, meskipun survei tidak mendapat hasil lengkap dari para pemain Inggris, Spanyol dan Jerman.

Sejumlah organisasi pesepakbola di negara-negara kunci seperti Inggris dan Spanyol yang menjadi penyelenggara liga termahal di dunia, tidak mengembalikan hasil survei secara utuh. Begitu juga Jerman.

Hasil survei itu kemudian diumumkan dalam Laporan Pekerja FIFPro Global 2016.

Dari survei itu, ternyata diketahui sekitar 60 persen pemain sepakbola menerima gaji kurang dari 2000 dolar AS (sekitar Rp27 juta) per bulan.

Angka itu sangat timpang dibandingkan gaji yang diterima pemain Real Madrid Cristiano Ronaldo sebesar Rp4,5 miliar per pekan atau rata-rata Rp18 miliar per bulan.

Dari survei itu juga diketahui, empat dari 10 pemain (sekitar 41 persen) kerap mengalami pembayaran gaji telat dalam dua tahun terakhir.

Para pesepakbola yang kerap mengalami gaji telat bayar antara lain di Malta (79 persen), Turki (75 persen), Rumania (74 persen), Gabon (96 persen), Bolivia (95 persen) dan Tunisia (94 persen).

"Yang kami sedih, tidak ada seorang pun yang mau percaya bahwa ada klub-klub itu tidak menghormati kontrak pemain dan tidak (kunjung) membayar gaji pemain... Tidak semua pemain bola bisa punya tiga mobil dengan warna berbeda. Realitas industri sepakbola kita ini sangat jauh berbeda dari apa yang kebanyakan dipikirkan oleh para fans bola," kata Sekjen FIFPro Theo van Seggelen.

Survei FIFPro itu melibatkan Universitas Manchester di Inggris, dengan sasaran para pemain di 54 negara di Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan serta Afrika.

Survei menyebutkan hanya 40 persen dari pesepakbola yang memperoleh penghasilan lebih dari 2000 dolar AS per bulan, sedangkan 14 persen memperoleh penghasilan antara 1000 dolar AS (Rp13 juta) hingga 2000 dolar AS (Rp27 juta) per bulan.

Sebanyak 24 persen bergaji antara 300 dolar AS (Rp4 juta) hingga 1000 dolar AS, dan sekitar 20 persen penghasilannya sekitar 300 dolar AS per bulan atau kurang dari itu.

FIFPro menyebutkan meski para pemain yang mengalami masalah dalam pembayaran gaji seperti gaji telat bisa menggugat ke FIFA setelah tiga bulan telat, namun mereka masih harus menunggu sekitar dua tahun untuk menunggu keputusannya.

"Kami menginginkan FIFA dan klub mengurangi aturan terkait gaji telat ini menjadi sebulan. Ini untuk memastikan mereka tetap dibayar tepat waktu dan dibayar penuh---ini prinsip dasar setiap pekerja," kata Sekjen FIFPro Theo van Seggelen.

Banyak juga pesepakbola yang tidak punya jaminan karir. Rata-rata kontrak hanya berdurasi sekitar 22 bulan (kurang dari dua tahun), sementara sekitar delapan persen pemain bahkan tidak pernah menerima naskah kontrak sama sekali. Hal ini berdampak pada kelangsungan karir mereka, dan tidak ada kejelasan mengenai masa depan saat kontrak habis.

Banyak juga pesepakbola yang menghadapi ancaman, intimidasi bahkan bully. Sekitar 10 persen pemain yang disurvei mengaku mengalami kekerasan fisik di lapangan, dari penggemar, rekan setim hingga manajemen klub. Sementara sekitar 16 persen mengatakan pernah menerima ancaman kekerasan.

Survei juga menemukan kasus manajemen klub yang mem-bully pemain ketika para pemain ingin pergi, dan sekitar enam persen pemain yang hendak pergi di-bully dengan dipisahkan dari pemain lain saat latihan.

Rencananya hasil survei ini akan diserahkan oleh FIFPro ke FIFA dan Komisi Eropa untuk mengatur mengenai perburuan di dunia sepakbola. FIFPro juga mendesak FIFA agar memberi sanksi skorsing kepada federasi sepakbola yang tidak melindungi hak-hak pemain. (Reuters/Guardian/Foxsport/Eurosport)  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!