Politisi Partai Demokrat, Bernie Sanders. (Foto: Phil Roeder/Flickr/Creative Commons)

KBR - Politisi Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Bernard 'Bernie' Sanders mengisyaratkan tidak akan ikut dalam pemilihan presiden Amerika pada 2020 mendatang. Sanders mengatakan itu usai pilpres 2016 dimenangkan oleh Donald Trump, calon presiden dari Partai Republik.

Bernie Sanders mengatakan waktu empat tahun lagi merupakan waktu yang cukup lama. Kini ia hanya akan memfokuskan diri untuk membantu Partai Demokrat bangkit kembali pasca kekalahan di Pilpres 2016.

Saat ini Partai Demokrat tengah melakukan konsolidasi menghadapi pemerintahan Amerika Serikat selama empat tahun ke depan di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Donald John Trump.

Hasil Pilpres AS 2016 memang mengejutkan bagi Partai Demokrat. Banyak swing voter---pemilih mengambang yang semula cenderung pada Clinton, ternyata berbalik memilih Trump. Hal itu terlihat dari kemenangan Trump di Wisconsin, Michigan dan Pennsylvania. Negara bagian yang semula diperkirakan akan menjadi 'biru', berubah menjadi 'merah' dalam penghitungan suara.

Di Wisconsin, Partai Republik memenangkan suara untuk kali pertama sejak 1984, unggul dengan margin 1 persen dibandingkan Demokrat. Jajak pendapat sebelumnya menyebut negara bagian Wisconsin sebelumnya bakal menjadi 'biru'. Namun, ternyata para pemilih pemula justru mengalihkan suara ke Donald Trump.

Partai Republik juga memenangi Pennsylvania, dengan margin 1,2 persen unggul dari Demokrat. Peralihan suara kunci juga terjadi di Carolina Utara, dimana suara direbut Partai Republik dengan margin 3,8 peren. Peralihan suara dari semula pendukung Demokrat ke Republik juga terjadi di Michigan (Republik unggul dengan margin 0,3 persen).

Kritik Bernie Sanders

Bernie Sanders merupakan kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, namun kalah dalam konvensi melawan Hillary Clinton. Saat ini ia berusia 75 tahun. Jika ia maju pilpres pada 2020, dan menang, maka ia akan menduduki Gedung Putih di usia 79 tahun. Jauh lebih tua dibandingkan Donald Trump saat ini yan berusia 70 tahun.

Ketimbang bicara mengenai pilpres 2020, Sanders menyuarakan kritiknya pada Partai Demokrat. Menurutnya, kekalahan Partai Demokrat kali ini karena para tokoh dan elit partai kurang antusias.

"Orang-orang pada tidak datang ke bilik suara untuk menyalurkan hak suara mereka. Ini memalukan, saya kira, ada jutaan orang kelas pekerja kulit putih memutuskan memilih Trump. Ini memberi kesan bahwa slogan Partai Demokrat bersama para pekerja tidak lagi didengar oleh kaum buruh di negeri ini," kata Sanders.

Politisi Partai Demokrat seperti Bernie Sander serta Senator Elizabeth Warren mendorong agar partainya lebih mendorong isu-isu ekonomi yang lebih populis. 

Menurut mereka, kekalahan Hillary Clinton atas Donald Trump disebabkan karena Hillary enggan sepenuhnya fokus pada isu-isu kesenjangan ekonomi dan regulasi Wall Street yang kian ketat.

Senator Elizabeth Warren memaparkan prinsip-prinsip yang mestinya diangkat oleh Partai Demokrat selama pemerintahan Trump: melawan kelompok bigotry (sikap intoleran terhadap pihak-pihak yang berbeda pandangan), mendorong kesetaraan ekonomi dan melawan pengaruh petinggi Wall Street (pengusaha raksasa) terhadap perekonomian Amerika sehingga menebabkan kesenjangan pendapatan masyarakat.

"Kami akan melawan balik terhadap upaya-upaya serangan terhadap (warga) keturunan Latin, Afrika-Amerika, perempuan, Muslim, imigran, difabel Amerika, atau serangan terhadap siapapun. Apakah Donald Trump berkuasa di menara kaca atau di Gedung Putih, kami tidak akan beri jarak satu inchi pun mengenai ini (intoleransi). Tidak sekarang, tidak kapanpun," kata Warren.

Yang kemudian menjadi persoalan bagi Demokrat adalah, kebanyakan suara untuk Hillary dan Partai Demokrat ternyata datang berasal dari dari warga usia tua atau senior---jauh lebih tua dari konstituen inti Partai Demokrat yang minoritas dan muda.

Bernie Sander mengatakan jutaan pemilih dari kaum pekerja berusia muda berbalik arah mendukung Trump sebagai hal memalukan bagi Demokrat. Karena itu, Partai Demokrat harus segera berdiri mengambil posisi melawan kalangan korporat dan pengusaha yang terjun ke politik.

"Anda tidak bisa mengklaim bahwa kami membela kalangan pekerja, kami membela kepentingan kaum muda. Tapi di sisi lain, kita tidak punya keberanian melawan kelompok Wall Street dan kaum milyuner. Orang tidak akan percaya pada kita. Jadi Anda harus memutuskan, dimana Anda berada," kata Sanders.

Sejauh ini kalangan Partai Demokrat menilai Hillary Clinton terlalu peduli pada masalah aturan keuangan, dan pajak tinggi bagi orang-orang kaya. Namun, Hillary tidak menonjol pada isu-isu yang lebih populis. (AP/ABC/Fox News/Detroit Free Press) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!