Ilustrasi. (Foto: Wikiphoto/Creative Commons)

KBR - Melissa Harrison, warga Sydney Australia pernah bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan migas besar dengan gaji hingga enam digit (dalam dolar Australia).

Karir itu menjanjikan, namun ia kemudian memilih keluar dan bekerja lain yang jauh dari kesan glamor dan prestisius: menjadi tukang potong kuku.

Perempuan berusia 46 tahun ini mendirikan bisnis jasa potong kuku bernama The Toenail People, sebuah bisnis jasa bergerak yang tugasnya sederhana: membantu memotong kuku kaki atau merapikan kuku kaki orang lain.

Bagi sebagian orang, memotong kuku kaki orang lain mungkin menjijikkan. Namun, bagi Melissa, pekerjaan ini justru tidak kalah dari pekerjaan sebelumnya. Dan lebih ringan. Ia tidak ragu-ragu berjongkok dan berkotor-kotor untuk membersihkan kuku orang lain.

Ternyata usahanya menarik minat banyak orang. Dalam waktu kurang dari dua tahun, kliennya mencapai lebih dari 400 orang. Ia juga populer di kalangan orang-orang tua yang tidak sanggup lagi memotong kuku kaki sendiri.

Dengan biaya perawatan kuku sekitar 45 dolar Australia (Rp400 ribu) per klien, ia bisa bekerja enam hari sepekan dan melayani hingga 13 klien per hari. Jika dirata-rata ia bisa mendapatkan pemasukan sekitar Rp5 juta per hari.

"Sebelumnya saya tidak punya pengalaman memotong kuku kaki. Teman saya bercerita soal kegiatan ini, dan mula-mula saya pikir itu menjijikkan. Tapi kemudian saya melakukan riset, dan ternyata tidak ada orang yang mengerjan pekerjaan ini, kecuali di The Toenail People---perusahaan yang menawarkan waralaba di Australia, namun hanya beroperasi di Queensland," kata Melissa.

Ia menceritakan gagasan itu ke suaminya, Paul, dan dua anaknya. Semula mereka menganggap ide itu aneh. Namun setelah dijelaskan, suami Melissa mulai menyukai gagasan itu.

"Jadi saya beli waralaba di Sydney sebesar 40 ribu dolar Australia (sekita Rp400 juta), dan belajar bagaimana memotong kuku kaki secara profesional. Setahun kemudian, saya sudah cukup mahir, dan saya mengambil alih semua bisnis itu," katanya.

Pada awal menggeluti bisnis potong kuku kaki, ia sempat syok, ketika melihat kaki orang-orang tua dalam berbagai bentuk.

"Kaki-kaki itu sudah dipakai berjalan bermil-mil. Ada garis-garis dan kerut-kerut. Tiap kaki punya kepribadian. Awalnya saya syok. Tapi saya mulai terbiasa. Saya sekarang bahkan tidak bakal mundur ketika melihat kaki-kaki yang tidak terawat itu, justru menyenangkan," katanya.

Melissa mengatakan jasa potong kuku kaki tidak akan surut.

"Kuku kaki tidak akan berhenti tumbuh, seperti populasi orang-orang lansia juga akan terus ada. Semakin saya pikir-pikir, semakin masuk akal bisnis ini," kata Melissa.

Sekitar 85 persen pelanggannya adalah orang usia tua. Setiap kali perawatan kuku kaki ia butuh waktu sekitar 40 menit.

"Biayanya sekitar 45 dolar Australia, sudah termasuk, pelembut, pijatan dan mengikir kuku. Saya kerja enam hari seminggu, dan setiap harinya bisa sampai 13 klien, dengan usia antara 29 tahun hingga 100-an tahun," kata Melissa.

Banyak kliennya warga lansia yang merupakan orang rumahan, tinggal sendirian, sehingga kedatangan Melissa menjadi penghibur dan teman bicara.

"Jadi mereka menunggu-nunggu kedatangan saya," lanjut Melissa. "Saya kini tidak merindukan pekerjaan lama saya, sama sekali." (Mirror/Sydney Morning Herald)  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!