Api menyembur saat rokok elektrik meledak di saku celana seorang pria di New York, AS. (Foto: CCTV/Youtube)

KBR - Seorang pria di New York Amerika Serikat dilarikan ke rumah sakit setelah rokok elektrik meledak di saku celana. Ledakan rokok elektrik itu menyebabkan luka bakar di tangan dan kaki pria itu.

Pria bernama Otis Gooding itu bekerja sebagai kasir di kios minuman di Stasiun Kereta Utama New York. Dalam rekaman kamera pengawas terliat Otis Gooding sedang bercakap-cakap dengan dua pekerja kios lainnya, ketika tiba-tiba muncul ledakan disertai semburan api mirip kembang api dari saku celananya.

Ledakan mirip kembang api itu berlangsung selama beberapa detik, dan korban dengan panik berusaha mengeluarkan rokok elektrik dari saku celana. Sementara dua teman dan satu pelangan menyebar menjauh, karena seperti ada proyektil yang terlontar dari benda elektronik itu.

"Kejadiannya begitu cepat... Terdengar suara mendesis dan seperti peluit melengking," kata Jonathan Lee, teman Gooding. "Dia berusaha mengeluarkannya dari saku celana. Saya lihat saat jarinya keluar dari aku, ujung jarinya terbakar."

Selain mengeluarkan api, kebakaran rokok elektrik itu juga menimbulkan asap tebal berwarna hitam. Teman-teman korban hanya bisa menelfon memanggil polisi atau pemadam kebakaran.

Akibat luka bakar itu, ia dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulan. Diperkirakan ia harus menjalani operasi.

Rokok elektrik atau vapor populer dijadikan alternatif bagi orang yang menghindari rokok tembakau.

Senator Charles Schumer menyebut rokok elektrik sebagai bom waktu, terkait dengan beberapa kali insiden ledakan rokok elektrik hingga membuat orang cedera.

Data Kantor Pemadam Amerika Serikat menyebutkan sepanjang 2009-2014, sedikitnya terjadi 25 kali ledakan rokok elektrik di Amerika. Diduga masalahnya pada batere lithium yang tidak tahan panas.

Namun Jonathan Lee, teman korban menduga, ledakan itu terjadi karena rokok elektrik yang dipakai temannya itu sudah diubah atau dikustomisasi, sehingga memiliki daya listrik yang besar.

"Saya belum pernah melihat yang seperti itu, begitu besar tenaga (baterenya). Itu produk kustomisasi, jadi orang bisa mengubah tegangannya untuk bergaya," kata Lee.

Tahun lalu, Departemen Transportasi mengeluarkan larangan bagi penumpang pesawat membawa rokok elektrik. Hal itu untuk mencegah kebakaran di pesawat saat terbang. (AP/CNN/New York Post/Dailymail)



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!