Ilustrasi (sumber: Kemenkeu)



KBR, Jakarta- Bank Indonesia menyatakan desain uang   yang baru akan mulai terbit pada bulan depan. Deputi Gubernur BI Ronald Waas mengatakan, saat peluncuran desain baru itu, BI juga akan mengumumkan bahwa masyarakat dapat menukarkan uangnya ke bank untuk mendapatkan pecahan uang berdesain baru.

Dia juga menjamin, setelah penerbitan, uang desain lama tidak serta merta tak bernilai.

"Desember mudah-mudahan bisa launching. Tetap berlaku kok ketentuan yang lama. Penarikan BI kan bertahap. Ada bisa ditukarkan di bank, di lima tahun pertama, setelah itu cuma bisa di Bank Indonesia. Intinya tetap berlaku. Enggak akan ada rupiah yang tiba-tiba tidak berlaku. BI akan mengumumkan kalau mau menarik pecahan tertentu dan pengumumannya ngasih waktu yang cukup," kata Ronald di kantornya, Senin (14/11/16).

Sebelumnya, BI telah mengumumkan ada ada 12 gambar pahlawan nasional yang akan tercantum pada uang rupiah yang baru. Daftar pahlawan yang akan menjadi gambar utama uang itu sudah tertuang dalam Keputusan Presiden nomor 31 tahun 2016. Gambar pahlawan nasional yang diabadikan dalam mata uang itu yakni Presiden pertama RI Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk uang kertas pecahan Rp 100 ribu, Djuanda Kartawidjaja untuk uang kertas pecahan Rp 50 ribu, GSSJ Ratulangi untuk pecahan uang kertas Rp 20 ribu, Frans Kaisepo untuk uang kertas pecahan Rp 10 ribu, KH Idham Chalid untuk uang kertas Rp 5 ribu.

Selain itu, Mohammad Hoesni Thamrin untuk uang kertas Rp 2 ribu, dan Tjut Meutia untuk uang kertas Rp 1.000. Adapun pada uang logam, ada gambar I Gusti Ketut Pudja untuk pecahan Rp 1.000, Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang untuk pecahan Rp 500, Dr Tjiptomangunkusumo untuk uang logam Rp 200, dan Prof Dr Ir Herman Johannes untuk pecahan Rp 100.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!