Aktivis Lintas Agama, Gelar Aksi Seribu Lilin untuk Intan Olivia

"Lilin ini adalah tanda kehidupan. Dan kita mau Indonesia tetap menjadi bangsa yang besar"

Senin, 14 Nov 2016 21:42 WIB

Seribu lilin untuk Intan Olivia (2,5 tahun) korban bom Samarinda. (Sumber: Fb Hasudungan Hutagaol Butarsinomba)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Sejumlah masyarakat lintas agama mengadakan aksi solidaritas untuk Intan Olivia korban pelemparan bom molotov yang terjadi di Gereja Oikumene, Samarinda kemarin. Mereka mengecam serangan yang menewaskan Intan seorang balita berusia 2,5 tahun.

Pada aksi tersebut, perwakilan Persatuan Gereja Indonesia, Henry Likra, menegaskan PGI mengecam seluruh tindak kekerasan di manapun. Dia meminta kepada masyarakat Indonesia untuk tidak terprovokasi oleh kejadian itu.

"Lilin-lilin ini adalah tanda daripada saya meminjam suatu ungkapan yang populer, daripada kita mengutuki kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Dan lilin ini adalah tanda kehidupan. Dan kita mau Indonesia tetap menjadi bangsa yang besar, Indonesia menjadi bangsa yang beradab, dan karena itu pesan-pesan yang kira bawa disini adalah pesan perdamaian," ujar Henry saat aksi damai di depan Bundaran HI, Senin (14/11).

Pada aksi tersebut, masyarakat juga menyalakan lilin merah dan putih sebagai simbol persatuan. Mereka mengecam tindak kekerasan sekelompok orang yang ingin memecah Indonesia. Seorang perwakilan masyarakat juga tampil membacakan puisi yang ditulis untuk mengenang kematian Intan. Aksi ini terjadi spontan dari inisiatif sejumlah masyarakat.

Serangan bom molotov ke Gereja Oikumene terjadi kemarin pukul 10.10 WITA. Ledakan tersebut telah menewaskan seorang anak dan melukai 3 anak lainnya. Kapolri Tito Karnavian menyatakan siang tadi bahwa kepolisian masih terus mendalami kasus itu.

Pelaku penyerangan bernama Juhana adalah bekas narapidana. Dia dipenjara 3,5 tahun kasus bom buku di Komunitas Utan Kayu sejak 2012 dan baru bebas 2014 lalu setelah mendapatkan remisi.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.