Ilustrasi. Helikopter AS565 Panther buatan Airbus yang dipakai Prancis, tengah mendarat di kapal perang Amerika. Indonesia memesan 11 helikopter varian AS565 MBe dari Airbus. (Foto: US Navy/Wikimedia/Creative Commons)

KBR - Produsen pesawat Airbus secara resmi menyerahkan tiga helikopter AS565 MBe Panther dari 11 heli pesanan Indonesia. Penyerahan itu lebih cepat dari jadwal.

Acara serah terima helikopter perdana itu dilakukan di kantor pusat Airbus di Marignane, Prancis. Dari Indonesia, hadir perwakilan dari Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Laut.

Kontrak pemesanan 11 helikopter Panther itu diteken Indonesia-Airbus pada akhir 2014 lalu. Setelah tiga heli diserahterimakan, diharapkan sisa delapan helikopter lagi bisa dituntaskan pada akhir 2018.

"Kami senang bisa menjadi saksi penyerahan tiga helikopter Panther perdana ke mitra kami, hari ini," kata Kepala Program Helikopter Panther Airbus, Janick Blanc dalam rilis yang dikutip UPI Press.

Helikopter atau Eurocopter AS565 Panther merupakan versi militer dari Eurocopter AS365 Dauphin. Helikopter segala cuaca ukuran medium ini mendapat tenaga dari mesin turbo ganda Turbomeca Arriel 2N. Kecepatan maksimum bisa mencapai 165 knot (sekitar 305 kilometer per jam)

Panther versi militer ini memiliki peran militer yang luas, meliputi serangan tempur, serangan antikapal selam (Anti-Submarine Warfare/ASW), serangan darat, penyelamatan hingga evakuasi medis. Kokpitnya dilengkapi Sistem Kendali Terbang Otomatis (automatic flight control system/AFCS) serta sistem manajemen penerbangan.

"Helikopter AS565 MBe dikembangkan menggunakan proses yang sangat sempurna, dan untuk varian Panther ini berat maksimal take-off ditingkatkan hingga 4,500 kilogram. Ini akan meningkatkan kemampuan misi, terutama untuk misi antikapal selam," kata Janick Blanc.

Helikopter Panther pertama kali diproduksi pada 1984, dan digunakan di 20 negara. Sedangkan untuk varian Panther AS565 MBe itu pertama kali digunakan militer angkatan laut Meksiko.

Indonesia akan menggunakan helikopter Panther ini untuk mendukung kemampuan pertempuran laut TNI AL. Mitra Airbus di Indonesia, PT Dirgantara Indonesia ditugaskan untuk melengkapi heli Panther itu dengan dipping sonar (DS) dan sistem peluncur torpedo.

Direktu Utama PT DI Budi Santoso mengatakan PT DI telah bekerja dengan Airbus Helicopters pada sejumlah proyek selama bertahun-tahun. Tahun ini, kerjasama PT DI dengan Airbus sudah menginjak usia 40 tahun.

"Capaian hari ini menggambarkan komitmen dua perusahaan dalam bekerjasama. Kami menunggu helikopter hijau ini di Bandung, sehingga kami siap untuk memulai pemasangan peralatan misi tempur, kata Budi.

Menurut rencana, helikopter Panther ini akan menggunakan dipping sonar (DS-100) yang bisa beroperasi di kedalaman hingga 500 meter. Dipping sonar ini berguna untuk pengawasan jarak jauh dan pencarian bawah air, termasuk mendeteksi kapal selam.

Sejak tahun lalu, TNI AL berencana membangun skadron anti kapal selam (anti-submarine warfare/ASW). Skadron yang diberi nama Skadron Udara 100 ini bakal didedikasikan sepenuhnya untuk pertempuran laut anti kapal selam, dengan menggunakan helikopter AS565 MBe Panther.

Situs IHS Jane Defense Weekly menulis, skadron ini akan bertugas dekat dengan tanggal pengiriman Panther pertama. Skadron ini rencananya ditempatkan di pangkalan udara di Surabaya, Jawa Timur. (UPI/IHSJane/Airbus/AirCosmosInternational) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!