Gubernur Jakarta Nonaktif Basuki Tjahaja Purnama. (Sumber: Situs Pemda)



KBR, Jakarta- Pemimpin sejumlah ormas dan lembaga Islam mengimbau umat muslim tidak mudah terprovokasi pasca-penetapan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Poernama atau Ahok sebagai tersangka  kasus penistaan agama. Ketua Umum Pengurus Besar Al Washliyah Yusnar Yusuf yang mewakili para pimpinan ormas Islam mengatakan, dalam situasi ini tetap ada pihak yang ingin memecah-belah persatuan bangsa.

Kata dia, setiap umat Islam harus tetap tenang apabila menemui sikap atau pernyataan yang provokatif.

"Kami para pimpinan organisasi kemasyarakatan dan lembaga Islam tingkat pusat menyerukan kepada seluruh keluarga besar bangsa, khususnya umat islam untuk tetap tenang dan dapat menahan diri, serta  tidak terhasut oleh upaya pihak yang ingin mengadu domba antarumat berbagai agama maupun mempertentangkan rakyat dengan pemerintah. Kasus penistaan agama oleh Saudara Basuki Tjahaja Purnama adalah kasus individual, yang tidak ada kaitannya dengan agama dan etnik tertenti," kata Yusnar di kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Rabu (16/11/16).

Hari ini, para pimpinan ormas dan lembaga Islam menyatakan sikapnya atas penetapan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Poernama atau Ahok atas kasus penistaan agama. Ormas menyambut baik keputusan Polri yang menetapkan Ahok sebagai tersangk, mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi atas sikap kenegarawanannya karena tidak mengintervensi proses hukum Ahok.

Selain itu ormas meminta organisasi dan lembaga Islam untuk tetap mengawal proses hukum berikutnya agar tidak menyimpang; keempat, menyerukan semua umat Islam agar tetap tenang; dan kelima, menyerukan kepada umat Islam agar senantiasa memanjatkan doa kepada Tuhan.


Demo 25 November Batal


Ormas Islam memberikan sinyal rencana demo besar-besaran pada 25 November mendatang batal, menyusul penetapan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Poernama atau Ahok sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri atas tuduhan penistaan agama. Tokoh Muhammadiyah Din Syamsudin mengatakan, pascapenetapan tersangka itu, ormas dan lembaga Islam justru menganjurkan umat Islam mengawal kasus itu bersama-sama.

"Pada seluruh keluarga besar bangsa, kita sambut proses ini, kita kawal proses ini, dan mohon tidak ada gangguan-gangguan yang justru merugikan kehidupan kita bersama, termasuk rencana 25 November. Saya juga banyak mendengar informasi ini, dari MUI-MUI di daerah. Dengan peristiwa hari ini, kalau boleh bahasa saya, simpan dulu energi itu, jangan diumbar. Perjalanan dan perjuangan masih panjang. Mari sementara, kita ambil hikmahnya," kata Din di kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Rabu (16/11/16).

Din mengatakan, sebelum penetapan Ahok sebagai tersangka, dia memang banyak mendengar kabar rencana aksi 25 November untuk kembali mendesak proses hukum itu. Kini, dia memperkirakan, setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka, umat Islam juga akan memilih mengawal proses hukumnya, ketimbang turun berdemonstrasi lagi.

Hal serupa juga dikatakan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar. Dahnil mengatakan, organisasinya memiliki dua jalur untuk menuntaskan kasus Ahok, yakni hukum dan demonstrasi. Kini, kata dia, saat kasus hukumnya tengah berjalan, organisasinya akan berfokus pada pengawalan saja.

Hari ini, Mabes Polri menetapkan Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka atas dugaan penistaan agama. Penetapan itu tetap terjadi, meski ada perbedaan pendapat saat proses gelar perkara. Kini, kasus Ahok telah dilimpahkan dari status penyelidikan ke tahap penyidikan. Sebelumnya, Ahok dituduh penistaan agama karena mengutip salah surat Al-Maidah saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!