Presiden Perintahkan 800 Anak Cucu BUMN Dijual atau Merger

"Itu yang 800 itu dimerger atau perlu dijual, ngapain itu? BUMN ngurusi katering, ngurusi baju."

Selasa, 03 Okt 2017 22:05 WIB

Presiden Joko Widodo (kanan) menerima hasil rekomendasi rapat koordinasi nasional (rakornas) dari Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani (tengah) disaksikan Ketua Panitia Rakornas Kadin 2017 Maruarar Sirait dalam penutupan Rakornas Kadin 2017, Jakarta, Selasa (3

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo telah memerintahkan menteri terkait untuk menjual atau menggabungkan anak usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perintah ini disampaikannya dalam sidang kabinet paripurna Senin kemarin (2/10). Jokowi mencatat jumlah anak usaha BUMN sudah membengkak hingga 800.

Kata dia, ratusan anak cucu BUMN ini terlalu menguasai sektor bisnis, termasuk usaha kecil menengah.

"BUMN itu sekarang ada 118 tapi anak dan cucunya hampir 800. Tapi yang membuat anak, cucu dan cicit itu bukan Saya. Kan sudah ada dari dulu. Kenapa ngomongnya baru sekarang? Jangan-jangan juga ada yang mau main politik. Saya sudah perintahkan kemarin, sudahlah itu yang 800 itu dimerger atau perlu dijual, ngapain itu? BUMN ngurusi katering, ngurusi baju. Coba tanyakan yang ikut paripurna kemarin, saya tunjuk langsung yang kayak-kayak gitu," kata Jokowi di penutupan Rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Jokowi juga memerintahkan agar BUMN yang ada di daerah memberikan banyak peluang kepada para pengusaha lokal.

"Saya sudah perintahkan juga untuk yang berkaitan dengan BUMN yang ada di daerah, disubkan ke pengusaha-pengusaha di daerah, termasuk PU juga," ujar dia.

Jokowi berjanji meluangkan waktunya untuk berdialog dengan Kadin beberapa pekan ke depan. Ia mempersilakan pengusaha secara terbuka menyampaikan kritik dan masukan.

"Bicara blak-blakan dengan saya. Yang sakit-sakit tidak apa-apa. Tapi untuk kebaikan negara. Ada yang baik, tapi masih banyak juga yang jelek kok yang harus kita perbaiki," tutur Jokowi.

Editor: Rony Sitanggang  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi