Kenaikan Cukai 10,04% Tak Mempan Kendalikan Konsumsi Rokok

Industri rokok pasti akan melakukan intervensi karena mereka tidak mau jumlah konsumen turun, terutama anak-anak dan keluarga miskin, yang saat ini jumlahnya sangat besar.

Senin, 23 Okt 2017 15:08 WIB

Kenaikan cukai rokok sebesar 10,04% tidak mampu mengendalikan konsumsi. Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Dr. dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K), mengungkapkan, “Kenaikan 10,04% itu hanya berkisar 50an rupiah per batang. Itu angka yang sangat kecil. Bagaimana kita mau mengendalikan konsumsi rokok jika kenaikannya hanya 50 rupiah?”. Menurutnya, Pemerintah masih sangat mungkin menaikkan cukai rokok jauh lebih tinggi. Posisi nilai cukai rokok sekarang masih di sekitar 35% dari batas atas 57% yang ditentukan UU Cukai. Padahal, besaran maksimal 57% persen itu masih rendah, sementara anjuran WHO yang menetapkan cukai rokok sebaiknya minimal 66% dari harga jual eceran (HJE).


Abdillah Ahsan dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia. 

Abdillah mengingatkan cukai adalah alat kendali konsumsi. Karena itu, besarnya cukai rokok akan sangat mempengaruhi tingkat konsumsi produknya. Saat ini, harga rokok Indonesia adalah yang paling murah di ASEAN. Negara tetangga seperti Singapura dan Thailand telah membuktikan bahwa harga rokok mereka yang sangat tinggi membuat anak-anak dan keluarga miskin tidak mampu menjangkaunya, yang efeknya pada penurunan prevalensi perokok di kedua negara tersebut. Efek selanjutnya, peningkatan kualitas SDM berkat bagusnya kondisi kesehatan dan ekonomi masyarakat. 

Beberapa waktu lalu, Bank Dunia baru saja menerbitkan laporan berjudul Tobacco Tax Reform: At the Crossroads of Health and Development. Dalam laporan ini, Bank Dunia menjelaskan, Keuangan bisa menyelamatkan lebih banyak jiwa daripada Menteri Kesehatan dengan menaikkan cukai rokok. 

Ekonom senior sekaligus Ketua Dewan Penasihat Komnas Pengendalian Tembakau, Prof. Dr. Emil Salim  mengatakan pemerintah harus sangat memperhatikan situasi yang saat ini terjadi di depan mata.  “Yaitu anak-anak penerus bangsa yang harus dilindungi. Dalam mengambil keputusan, Pemerintah pasti akan menerima tekanan dan intervensi dari industri. Namun, jika Pemerintah berkomitmen kuat, masa depan bangsa akan selamat.” Kenaikan cukai rokok sekarang ini kata Emil Salim masih bisa ditingkatkan jauh labih tinggi. Pemerintah tidak perlu takut pada mitos-mitos yang selama ini didengungkan industri rokok dalam merespon kenaikan cukai, industri rokok pasti akan melakukan intervensi karena mereka tidak mau jumlah konsumen turun, terutama anak-anak dan keluarga miskin, yang saat ini jumlahnya sangat besar.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.