Kejar Anak Buah Santoso, 500-an Anggota Brimob Kembali Diterjunkan ke Poso

Operasi Tinombala sudah berjalan selama 2 tahun sejak 2016 lalu. Sebelumnya, operasi ini bernama sandi Operasi Camar Maleo pada 2015 lalu.

Senin, 02 Okt 2017 12:12 WIB

Apel pasukan Brimob dalam Operasi Tinombala 2017 di Palu, Jumat (29/9/2017). (Foto: KBR/Aldrim Thalara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Poso - Markas Besar Kepolisian (Mabes Polri) kembali menerjunkan ratusan pasukan Brimob ke Poso, Sulawesi Tengah untuk bergabung dalam tugas Operasi Tinombala 2017.

Sebanyak 540 pasukan Brimob dari sejumlah daerah diberangkatkan ke Poso, sejak Rabu, 29 September 2017. Mereka akan ditempatkan di empat wilayah di Kabupaten Poso, guna mencari dan mengejar tujuh orang sisa anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT), kelompok teroris pimpinan Santoso.

Juru bicara Polda Sulawesi Tengah, Hari Soeprapto mengatakan ratusan anggota Brimob itu berasal dari kesatuan Brimob Polda Aceh, Polda Kepulauan Riau, Polda Gorontalo dan Korps Brimob Kelapa Dua Depok. Mereka tiba di Bandara Mutiara SIS-Aljufri Palu menggunakan empat penerbangan berbeda.

Setiba di Palu, mereka diberangkatkan menggunakan jalur darat ke Kabupaten Poso. 

"Pasukan ini nantinya akan bertugas selama tiga bulan, dan akan berakhir pada 29 Desember 2017. Mereka menggantikan pasukan lainnya yang akan ditarik kembali ke satuan masing-masing," kata Hari Soeprapto, pada Jumat (29/9/2017) lalu.


Apel pasukan Brimob dalam Operasi Tinombala 2017 di Palu, Jumat (29/9/2017). (Foto: KBR/Aldrim Thalara)

Baca juga:

Selain melakukan pergantian pasukan, Polri juga mengganti kepala operasional Satgas, dari Komisaris Besar Polisi Badrus digantikan Komisaris Besar Polisi Djajuli dari Korps Brimob Kelapa Dua, Depok.

"Pasukan, langsung dibawa ke setiap sektor. Dalam operasi Tinombala ini masih dibagi menjadi empat sektor, dari Poso Pesisir bersaudara, sampai di Kecamatan Lore," kata Hari.

Operasi Tinombala sudah berjalan selama 2 tahun sejak 2016 lalu. Sebelumnya, operasi ini bernama sandi Operasi Camar Maleo pada 2015 lalu. Kegiatan operasi gabungan Polri dan TNI ini bertugas mengejar kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berafiliasi dengan kelompok ISIS. 

Sejak tewasnya pemimpin MIT, Santoso pada 19 Juli 2016 dan penggantinya Basri alias Bagong ditangkap pada 14 September 2016, kini polisi masih memburu tujuh sisa anak buah Santoso yang tersisa. Salah satunya adalah Ali Kalora, tokoh paling dicari dari kelompok tersebut.



Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau